Para Muassis Nahdlatul Ulama'

"Barang siapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khotimah beserta anak cucunya.(Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari)"

Menyambut Harlah NU Ke-96

Sedekah Oksigen (Penanaman pohon di wilayah Kec. Mlandingan, Situbondo oleh MWC NU Mlandingan).

Menyambut Harlah NU Ke-96 MWC NU Mlandingan

Khotmil Qur'an (Kegiatan kedua) di PP. Mabadius Saleh.

Acara Puncak

Sambutan oleh Bapak Akhmat Subaidi, S.Sos. (selaku Bapak Camat Mlandingan) di acara puncak menyambut harlah NU Ke-96.

Minggu, 24 Juli 2022

T I T I K – T I T I K

 

T I T I K – T I T I K

 


Tuhan,

Maafkan aku

Cintaku kepadaMU tak seperti megahnya kata-kataku

Kau pun pasti tahu

Kapan aku lebay

Kapan aku alay

Kapan aku PHP

Tetap saja kau berlagak tak tahu

 

Aku selalu bercerita kepada mereka

Tentang megahnya cintaku padaMu

Bodohnya mereka percaya

Padahal itu hanya sebuah lelucon

 

Iya,

Bagaimana aku bisa dikatakan mencintaiMu

Sedangkan hatiku masih terpaut pada selainMu

Berkorbanpun tidak

PanggilanMu pun sering tak kugubris

 

Hanya saja aku bercerita kepada mereka

Tentang cintaku padaMu

Cinta yang tak pernah ada

Agar mereka menganggapku titik-titik

Minggu, 10 Juli 2022

Perbedaan Harus Mengalah pada Persamaan

 


Oleh Aidi Kamil Baihaki

Dalam suatu kesempatan, Gus Dur ditanyai pendapatnya tentang perbedaan informasi mengenai siapa yang disembelih oleh Nabi Ibrahim. Menurut kaum Yahudi, Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ishaq. Tetapi menurut Islam, Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail.

"Siapakah sebenarnya yang disembelih Nabi Ibrahim?" Begitu bunyi pertanyaan mengkonfirmasi tersebut.



Gus Dur menjawab singkat, "Yang jelas, Nabi Ibrahim tidak jadi menyembelihnya."

Jawaban Gus Dur sangat sederhana, tanpa harus membuka kitab-kitab rujukan baik dari sumber Islam atau pun sumber Yahudi. Jawaban yang sepintas nampak sekedar bercanda.

Namun sebenarnya jawaban demikian sangatlah cerdas. Jawaban diplomatis yang mengandung nilai pendidikan.

Jelas Gus Dur tidak ingin menyalahkan informasi dari agama lainnya. Meski pun itu tidak berarti dia kurang meyakini informasi yang didapat dari Al-Qur'an.

Artinya kita dianjurkan jangan terlalu fokus pada perbedaan tentang siapa yang disembelih. Ada kesamaan informasi yang seharusnya dijadikan penguat soliditas kemanusiaan.

Mengapa informasi dari satu sumber bisa tidak sama?

Pertama, suatu pesan cenderung bisa berubah ketika media yang digunakan tidak tetap. Pesan berantai dari si A, ke B, ke C dan seterusnya... Akan mengalami diferensiasi ketika sampai ke si M.

Kita pernah melihat video-video youtube, tiktok, facebook atau media lainnya yang menggambarkan bagaimana suatu pesan bisa berubah dari orang pertama hingga ke orang terakhir.

Kedua, Tuhan mengajarkan pada kita tentang perbedaan dan persamaan. Kita diminta lebih bijak memilih untuk fokus pada perbedaan ataukah pada persamaan?

Gus Dur telah mengajarkan pada kita, perbedaan bukan untuk dijadikan bahan bakar konflik, justeru kita harus jeli melihat kemungkin persamaan sekecil apa pun agar fitrah kemanusiaan kita tetap terjaga.

Sungguh tidak berlebihan jika beliau digelari sebagai Bapak Pluralisme. Beliau kerap melontarkan jokes yang membuat orang lain tertawa, tetapi dibalik jokes itu hampir selalu disertai suatu pelajaran bagi mereka yang memang berusaha memahaminya.

Semoga Allah merahmati Gus Dur dan kita yang mengaguminya. Amin.

Dalam nuansa Idul Adha ini, marilah kita gelorakan semangat persatuan universal antar bangsa, antar agama dan antar manusia.