Senin, 14 Maret 2022

Gus Dur dan Spririt Gerakan Pemberdayaan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat

            Seiring berjalannya waktu, gagasan Gusdur kian dirindukan dan menjadi Urgent untuk kembali diperjuangkan karena mulai luntur dan hilangnya Nilai-Nilai Prinsip Toleransi dan Prinsip Kemanusiaan. Semakin membesarnya kerinduan secara emosional akan sosok gusdur membuat banyak element masyarakat merasa perlu “Menghidupkan Kembali” Spirit dan Gagasan Gusdur dalam kehidupan masyarakat, terutama pada aspek gerakan pemberdayaan sosial yang menjadi gagasan besar Gusdur sebagai upaya internalisasi nilai-nilai keadilan, kemanuasiaan dan kesetaraan.
            Gus Dur harus diakui sebagai tokoh yang berkontribusi besar dalam gerakan sosial di Indonesia, ide-idenya tentang Islam, demokrasi, dan HAM. Hal ini menjadi angin segar bagi kalangan Civil Society untuk melakukan upaya-upaya perubahan tatanan sosial yang transformatif.

Gagasan pemberdayaan Gus Dur terdiri atas tiga aspek penting:
  1. Pertama, mewujudkan kesadaran ummat melalui gerakan kecerdasan intelektual.
  2. Kedua, meningkatkan modalitas sosial masyarakat melalui pengembangan sumberdaya umat.
  3. Ketiga, menciptakan ekonomi umat yang berorientasi pada kepentingan masyarakat kecil.
            Ketiga aspek pokok penting tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dalam malakukan aksi nyata pemberdayaan ditengah kehidupan masyarakat, sebagaimana sembilan nilai utama Gus Dur, yakni; ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan dan kearifan tradisi, yang kesemua nilai-nilai itu bermuara pada ikhtiar menciptakan kemaslahatan.
            Orientasi Kemaslahatan bagi ummat banyak selain dapat diupayakan melalui kekuasaan negara atau pemimpin Negara– sebagaimana Gus Dur yang berpegang teguh pada kaidah “tasharruful Imam ‘ala raiyyah manutun bil maslahah (Kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan)”- juga bisa diupayakan melalui gerakan pemberdayaan sosial yang terstruktur, sitematis dan masif seperti yang telah Gus Dur teladankan dan tentu juga dengan adanya apresiasi dari berbagai pihak.


    Penulis : 
             Achmad Suhaili

1 komentar: