Minggu, 20 Maret 2022

Bencana yang Diundang

Antara bukit-bukit

Mulut-mulut menggigit bibir sendiri

Setiap doa terhalang ilalang

Rimbun menyekap, tak mengijinkan kembangnya harapan

Tanah-tanah enggan menyusun batu

Akar-akar mengabaikan hujan

Dan laut memenuhi langit dengan amarah


Baca Juga : Puisi Terlambat Terucap


Kita tersisa satu-satu

Menambang sesal

Menguruk jurang dosa

Mencitakan pengampunan

Dari burung-burung yang kehilangan ranting

Dari rusa-rusa yang kehilangan padang

Dari ular yang goanya direbut

Dari landak yang bukit-bukitnya dirampas


Tuhan tak mendengar karena Ia tak didengar

Tuhan tak peduli karena kita abai


Sesalan hanyalah patung-patung bisu

Hiasan, lalu bisa apa?



Penulis: 

Aidi Kamil Baihaki


0 komentar:

Posting Komentar