Para Muassis Nahdlatul Ulama'

"Barang siapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khotimah beserta anak cucunya.(Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari)"

Menyambut Harlah NU Ke-96

Sedekah Oksigen (Penanaman pohon di wilayah Kec. Mlandingan, Situbondo oleh MWC NU Mlandingan).

Menyambut Harlah NU Ke-96 MWC NU Mlandingan

Khotmil Qur'an (Kegiatan kedua) di PP. Mabadius Saleh.

Acara Puncak

Sambutan oleh Bapak Akhmat Subaidi, S.Sos. (selaku Bapak Camat Mlandingan) di acara puncak menyambut harlah NU Ke-96.

Sabtu, 30 April 2022

SHALAT KAFARAT / BARA’AH

 


Oleh: Abdul Wahab Ahmad

(Wakil Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur)

Soal Shalat Kafarat di setiap jumat terakhir ramadhan

   Shalat Kafarat di setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan adalah Bid’ah dan tak berdasar sehingga tidak boleh diamalkan. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan tegas menyebutkan demikian, begitu juga para muridnya hingga generasi pengarang I’anatut Thalibin, yang menjadi pegangan standar pelajar fikih Syafi’iyah di Indonesia. Itu yang saya pegang dan saya siarkan.

       Walau pun itu biasa dilakukan para ulama besar Yaman di masa lalu, di antaranya adalah Syaikh Abu Bakr bin Salim yang masyhur diakui kewaliannya, sehingga masyarakat di sana mentradisikan amaliyah tersebut.

   Justru sebab itulah saya lebih memilih pendapat yang melarang, sebab saya bukan orang yang seperti Syaikh Abu Bakr bin Salim yang seorang wali.

       Syaikh Abu Bakr bin Salim adalah sosok istimewa yang pengaruh positifnya sangat besar pada masyarakat tempatnya tinggal, dan bahkan hingga ke generasi sekarang. Murid-murid dan pengikut beliau bukan tipikal orang yang gampang meninggalkan shalat atau shalatnya bolong-bolong, apalagi beliau sendiri. Saya yakin beliau melakukan itu dalam rangka menekankan pentingnya kehati-hatian soal Shalat kepada masyarakatnya; jangan-jangan ada shalat yang terlupa atau tidak sempurna syarat rukunnya dalam setahun terakhir. Maka karena kehati-hatiannya itulah kemudian melakukan shalat kafarat / qadla'.

Tindakan berdasar kehati-hatian semacam ini masih bisa dicari landasan justifikasinya, di antaranya dalam penjelasan Qadli Husein.

      Akan tetapi saya bukan sosok spesial seperti itu, murid-murid dan masyarakat di sekitar saya juga bukan tipikal yang seperti itu. Kalau saya menyiarkan shalat Kafarat pada masyarakat, hasilnya bukan malah munculnya kehati-hatian tapi justru menganggap enteng. Bukan tidak mungkin malah muncul orang-orang yang salah paham mengira shalat harian lima kali sehari tidak begitu penting, sebab bisa ditebus sehari saja di jumat terakhir ramadhan. Bukan tidak mungkin, yang shalatnya bolong-bolong malah menunda Qadla shalatnya menunggu hari itu. Dan bisa jadi ada yang mengira bahwa hutang shalat setahun bisa lunas hanya dengan sekali shalat di hari tersebut. Ini semua tentu mengakibatkan kesalahan besar.

        Sebab itu pendapat tersebut tidak saya pilih, yaitu sebagai saddan lidz-dzariah (karena menutup potensi keburukan yang dapat terjadi). Yang berani saya syiarkan adalah pendapat standar dalam empat mazhab, yaitu shalat lima kali sehari adalah perkara yang amat penting dan wajib. Siapa yang meninggalkannya maka harus diqadla sesegera mungkin, tanpa boleh menunda lama, apalagi dikumpulkan hingga setahun. Hutang sekali shalat diqadla dengan sekali shalat, hutang seratus shalat hanya bisa lunas dengan diqadla seratus shalat pula. Inilah pendapat saya dan jawaban saya ketika ditanya mengenai shalat di atas.

Tentang tata cara shalat kafarat

      Tata cara shalat Kafarat tersebut yaitu setelah selesai sholat Jumat, kemudian dimulai dari sholat Dzuhur 4 rakaat seperti biasa, lalu Ashar 4 rakaat, Maghrib 3, Isya’ 4 dan Shubuh 2 rakaat.

Sholat tersebut bisa dilakukan berjamaah atau sendiri dirumah.

      Sampai sekarang para habaib yang melakukan sholat Qodha’, beberapa di antaranya yaitu:

1.  AL-HABIB UMAR BIN SALIM BIN HAFIDZ

2. AL-HABIB SYAIKH BIN ABDUL-QADIR ASSEGAF DAN PARA HABAIB LAINNYA.

3. AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA PEKALONGAN,

4,  HABIBINA AL-HABIB YAHYA BIN ALWI AL HADDAR  (Pengasuh Ponpes Darus Sholihin, Situbondo, Jawa Timur), dan masih banyak yang lain lagi,

Beliau semua melakukan Sholat Qodla’ dengan tatacara seperti diatas (dimulai dari sholat Dzuhur 4 rakaat seperti biasa lalu Ashar 4, Maghrib 3, Isya’ 4 dan Shubuh 2 rakaat)

Niatnya yaitu:

اصلي فرض الظهر اربع ركعات قضاء مستقبل القبلة إماما/مأموما لله تعالى

Usholli Fardhodz Dzuhri arba’a roka’atin Qodlo’an mustaqbilah qiblati imaman Lillahi ta’alaa (kalau jadi imam), atau makmuman (kalau menjadi makmum) lillahi ta’ala Allahu akbar.

Untuk melaksanakan sholat berikutnya tinggal mengganti untuk sholat-sholat yang lain, misalnya Ashar sampai Subuh.

Ketahuilah....!!

Bahwa Syaikh Abubakar Bin Salim RA berkata: “Tidak  di perbolehkan dan termasuk dosa besar jika seorang sengaja meninggalkan shalat fardu selama setahun dengan niatan hanya ingin mengqodho’nya pada hari Jum’at terakhir dalam bulan Ramadhan”

Asal muasal shalat Kafarat tersebut

Yang pertama kali mencetuskan sholat qadla’ lima waktu pada hari jum’at terakhir bulan Ramadhan adalah Beliau (Habib Abu Bakar Bin Salim dan keturunannya. Seperti telah dijelaskan, kemungkinan ada dari shalat lima waktu yang belum terqadla’, atau kurang khusyu’, atau kurang mantap.

Banyak para ulama yang membahas tentang masalah ini dan dijadikan dalam satu kitab khusus.

 Kitab yang membahas hal tersebut.

Adalah kitab yang disusun oleh As-Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal (guru daripada para Masyayikh di Tarim Hadramaut) yang berkata:

القول المنقوض في الرد على من أنكر الخمس الفروض

Khulashah dari pembahasan dalam kitab beliau diatas ada tiga masalah:

1.       HARAM, bagi orang yang meyakini bahwa qadla' lima waktu tersebut adalah untuk mengqadla’ semua shalat  yang dia tinggalkan (bukan menambal/menyempurnakan).

2.       WAJIB, bagi orang yang meyakini punya shalat yang perlu diqodla’, tetapi tidak meyakini seperti keyakinan pertama. Maksudnya hanya sholat itu saja yang lain belum terqodla’kan.

3.       HATI-HATI, bagi orang yang selalu shalat lima waktu, tetapi punya keraguan mungkin dari sholat lima waktu yang dia kerjakan Ada yang kurang dalam syarat atau rukunnya, sehingga perlu di qodla’.

Para ulama menanggapi hal di atas ada yang mengatakan sah dan tidak ssah Bagi kaum muslimin, silahkan mau ikut pendapat yang mana pun. Mau dikerjakan ya boleh, dan tidak dikerjakan juga tidak masalah.

Intisari dari fatwa sayyidil habib al allamah Salim bin Abdullah bin Umar As Syathiri

Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Alhabib Muhammad bin Hadi Assegaf dalam kitabnya, TUHFATUL ASYROF;

لكن هذا القضاء لكل ما يختل في صلاته بوسواس و غير طهور و ذلك يفعل بعضهم بغير تعمد

Maka qadla' ini dilakukan dalam rangka bukan menutupi karena tidak sholat, melainkan sudah melakukan sholat 5 waktu dengan sebaik-baiknya selama ini. Hanya saja barangkali dalam sela-sela dia melakukan sholat ada yang kurang pas dalam kacamata syari’at Islam.

Pendapat Ma'ruf Khozin (anggota Aswaja Center NU)

Ma’ruf Khozin sudah bertanya kepada Habib Abu Bakar As-Segaf, Wakil Rais Syuriah PCNU Pasuruan:

عفوا يا سيدي هل عرفتم بصلاة الكفارة في اخر الجمعة من رمضان. افتوني مأجورين ان شاء اللّٰه

“Maaf Sayid Abu Bakar, apakah Anda pernah tahu tentang salat Kaffarat di hari Jumat terakhir di bulan Ramadlan? Berilah fatwa pada saya, insyaa Allah Anda mendapatkan pahala.”

Habib Abu Bakar As-Segaf menjawab:

ليست صلاة الكفارة. بل صلاة القضاء. هذه من عمل سيدي الشيخ أبي بكر بن سالم المدفون في عينات حضرموت. من أكا بر أولياء السادة في زمانه. لكن لا ينوي بها لجبر صلاة الدهر. كما حرموا ذلك الفقهاء. إنما السادة عملوا ذلك وجعلها دأبا في كل آخر جمعة من رمضان. إقتداءا به وعلقوا نيتهم على نية الشيخ أبي بكر بن سالم الملقب بفخر الوجود . كان الحبيب حسين بن طاهر (مؤلف سلم التوفيق) سأله أهل حضرموت عن ذلك لما أشكلوه. فقال سلمنا لأهل الله ونوينا على مانواه الشيخ أبوبكر بن سالم

“bukan shalat Kaffarat, namun shalat Qadla'. Ini adalah amalan 🌹Sayid Syaikh Abu Bakar bin Salim 🌹yang dimakamkan di 'Inat, Hadlramaut (Yaman). Beliau adalah pembesar / pemimpin para wali dan sayid di masanya. Namun salat tersebut tidak boleh diniati sebagai pengganti salat selama setahun, sebagaimana diharamkan oleh ulama Fikih. Para Sayid (Habaib) hanya mengamalkannya dan menjadikannya sebagai kebiasaan di akhir Jumat bulan Ramadlan karena untuk mengikuti beliau. Mereka menyesuaikan niat sama seperti  niat Sayid Syaikh Abu Bakar bin Salim yang bergelar Fakhr al-Wujud.”

“ kitab Sullamut Taufiq, Habib Husain bin Thahir ditanya oleh penduduk Hadlramaut tentang hal ini, beliau menjawab: "Kita taslim (menerima) terhadap amalan wali Allah. Dan kita niatkan seperti niat Sayid Abu Bakar bin Salim.”

لكن الحبائب منعوا دعوة الناس لفعل هذه الصلاة في المساجد مثلا. وفعلوها مع أسرتهم في بيوتهم. خوفا من الإشكالات من بعض الناس.

“Tetapi para Habaib melarang mengajak orang-orang melakukan salat ini di masjid, misalnya. Beliau-beliau mengamalkannya bersama keluarga di kediaman masing-masing Khawatir ada kejanggalan dari sebagian orang.”

Wallahu a’lam.

Jumat, 29 April 2022

ILMU IBARAT MAKANAN

 


 

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda: “Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi orang muslim laki-laki dan perempuan”. Di hadis lain Nabi juga bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat maka dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka dengan ilmu”.

 

Dari kedua hadis di atas dapat disimpulkan  bahwa ilmu adalah suatu entitas yang sine qua non bagi kehidupan manusia. Bahwa manusia secara umum dan seorang muslim khususnya, tidak akan bisa menjalani kehidupan di dunia ini tanpa keberadaan ilmu (baik pengetahuan maupun ilmu pengetahuan).

 

Al-Ghazali di dalam magnum opusnya –Ihya’ ‘Ulumiddin—memberikan suatu tamstil yang sangat bagus. Menurutnya, keberadaan ilmu bagi kehidupan manusia ibarat makanan. Yang tidak lain merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Berikut terjemah dari teks yang ditulis oleh Al-Ghazali perihal pentingnya ilmu;

 

Bukankah orang yang sakit bila dirinya tercegah dari makan, minum, dan obat akan mati? Iya. Begitu juga dengan hati yang tercegah dari hikmah dan ilmu selama tiga hari maka ia akan mati. Karena sesungguhnya makanannya hati adalah hikmah dan ilmu sebagai sumber kehidupannya. Sebagaimana kebutuhan jasad terhadap makanan. Dan barangsiapa yang menolak ilmu maka hatinya akan sakit sedangkan kematian (qalbu)nya menjadi niscaya”.

 

Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu selalu akan dibutuhkan oleh seseorang yang memiliki profesi apapun sesuai dengan bidangnya masing-masing. Bahkan berkenaan dengan akhlak pun (yang notabene hal praksis) juga membutuhkan ilmu. Maka tak heran jika banyak para ulama’ menulis kitab-kitab tentang ilmu akhlak. Sehingga kita dapat mengidentifikasi mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang buruk.

 

Penulis :

              Miftahud Dafiq Fawaizi

Kamis, 14 April 2022

Puisi TELUK TAWADUK

 


ia

tubuh lautan

yang rela menjorok lebih dalam

ke wilayah daratan

tetap tenang

walau dikekang batas tanah

dari 3 arah

belakang, samping kiri, dan kanan

tetap memandang ke depan

meski sejatinya kalbu menunduk

ikhlas, rela, dan tawaduk

menetapi janji sebagai teluk

secara khusyuk


tapi

tubuh hamba sahaya

yang dikepung lapar dahaga

bisa lebih tawaduk dari teluk

walau didera kuasa mata, 

bibir, dan telinga

tangan, kaki,

otak serta hati

yang dibekali rabi

naluri untuk berjaya sendiri

merasa lebih tinggi

dari ciptaan lain di bumi,

tubuh hamba

tetap pantang jemawa

lantaran sang majikan menjaganya

dari jagal kesombongan fana


tubuh insan

yang mencinta ramadhan

juga bisa lebih khusyuk dari teluk

walau hasrat kerap berkhianat

nafsu tak ragu menipu

amarah memamah

ambisi menghabisi

rakus meringkus

tamak menggasak

loba menghamba dunia,

tubuh insan

tetap lempang

mendekap hakikat siam

sebagai laku ketaqwaan

di hadapan sang al hakam



Oleh: Sosiawan Leak

10 April 2022

BINAR RAMADHAN TV9

Tingkatan Puasa Menurut Al-Ghazali

 





    Sudah mafhum di telinga kita bahwa definisi puasa di dalam nomenklatur kajian yurisprudensi islam (ilmu fikih) memiliki arti menahan (al-imsak). Yakni menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, melakukan hubungan seksual, dan lain sebagainya dimulai sejak fajar terbit sampai matahari terbenam.

    Definisi di atas adalah pengertian dari lanskap  kajian ilmu fikih. Karena apa yang menjadi obyek material dari ilmu tersebut menyasar pada wilayah praktek semata (dzowahir). Tidak mencoba untuk mengelaborasi sampai pada titik subtil dari ibadah puasa itu sendiri.

    Nah, dari sinilah mungkin kiranya sangat perlu untuk mengenengahkan hasil dari refleksi Al-Ghazali di dalam memahami ibadah puasa yang tidak hanya mencukupkan ibadah puasa sebagai ritus semata. Akan tetapi, beliau juga mencoba memahaminya dari arah mistik islam (ilmu tasawuf) melalui karyanya yang berjudul “Asrarush Shoum”.

    Di dalam buku ini, Al-Ghazali menjelaskan bahwa tingkatan puasa seseorang dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yang ketiganya bersifat hierarkis. Yaitu puasanya orang awam, puasanya orang khusus, dan puasanya khowasul khowash (orang khusus di antara orang-orang khusus).

    Pertama, puasanya orang awam. Menurut Al-Ghazali puasanya orang awam hanya sekadar mencegah perut dan kemaluannya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Tentu saja puasa pada level ini tidak memiliki ekses positif terhadap progresifitas moral dan spiritualitas yang bersangkutan. Maka tak heran jika Nabi pernah bersabda; “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak menghasilkan apapun kecuali hanya rasa lapar dan dahaga”, (HR. An-Nasa’i).

     Kedua, puasanya orang khusus. Pada level ini seseorang tidak hanya sebatas mencegah dirinya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Akan tetapi ia juga menjaga semua anggota badannya (mata, telinga, lisan, kaki, tangan, dll) dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak  kualitas puasanya. Ada kesadaran di dalam dirinya bahwa ibadah puasa merupakan suatu laku untuk membentuk karakter moral seseorang, baik yang berkaitan langsung dengan hak-hak Allah maupun hak-hak orang lain. Maka sangat relevan kemudian ketika Muhammad Assad melalui karyanya yang berjudul “The Message Of The Quran” mengatakan bahwa ibadah puasa sebagai ajang tazkiyatun nufus (penyucian diri) serta memupuk empati terhadap faqir miskin.

    Ketiga, puasanya khowashul khowash. Menurut Al-Ghazali, puasa pada level ini merupakan tingkatan puasa yang paling tinggi. Di samping ia mencegah perut dan kemaluannya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, menjaga seluruh anggota badannya dari perbuatan-perbuatan maksiat, ia juga memuasakan hati dan pikirannya dari segala sesuatu (dunia) selain Allah. Baginya, sudah tidak ada tempat lagi di hatinya selain Allah. Ia benar-benar membuat dirinya patah hati terhadap selain Allah.

Lalu pertanyaannya, berada di level manakah puasa kita?

Salam fikri dan selamat membaca !



Oleh: Miftahud Dafiq Fawaizi

Selasa, 12 April 2022

Puisi Engkau Dimana-mana

 



Aku selalu melihatmu

Dari segala sudut dan arah

Menemukanmu dimana-mana

Pada batas cakrawala

Memenuhi semesta


O, aku menikmati keindahan tak terperi

Yang tersimpan rapi di wajah kudusmu

Sorot matamu yang penuh kilat cahaya

Menembus batinku; mengeja jiwaku; menuntun langkahku

Menuju sirath 'tuk merengkuh an-na'im


Bagaimana mungkin aku bisa berpaling

Tuhan telah menyamai biji itu di kalbuku

Menyiraminya setiap hari

Merawatnya sepanjang waktu

Tumbuh dengan subur

Rantingnya menembus langit ketidakberdayaanku

Akarnya menghunjam kalbuku

Dan buahnya akan kupersembahkan untukmu

Sampai batas akhir yang telah Tuhan sediakan


Namun, pada suatu ketika

Bila jasadku dikoyak cacing tanah

Dicabik-cabik ulat sebagai titah

Dilempar di sudut kesunyian

Yakinlah, teriakan cintaku akan semakin lantang

Agar semua manusia tahu

Para penghuni kubur tak sesenyap itu



Oleh: Miftahud Dafiq Fawaizi

Senin, 11 April 2022

Pelantikan PAC IPNU IPPNU Mlandingan sekaligus gelar Pondok Ramadhan Dan Khotmil Qu'ran

 



Pelantikan PAC IPNU IPPNU Mlandingan sekaligus gelar Pondok Ramadhan Dan Khotmil Qu'ran.


     Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul ulama (IPPNU) Mlandingan mengadakan Pelantikan PAC IPNU-IPPNU Mlandingan yang dikemas dengan Pondok Ramadhoan pada Ahad, (10/4/2022). Bertempat di SMPN 2 Mlandingan, Desa Tribungan, Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo.


    Ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelantikan Perdana ini. dintaranya, khotmil Qur'an bersama, Buka Bersama, kajian dan Have fun yang diikuti oleh seluruh peserta pondok Ramadhan.  


    Ketua Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Mlandingan berharap atas terlantiknya PAC IPNU-IPPNU Mlandingan dapat menumbuhkan komitmen dalam mengawal akidah ahlussunnah wal jama'ah An-Nahdliyah.


    "Saya berharap PAC IPNU-IPPNU dapat menumbuhkan komitmen dalam menjaga serta mengawal akidah ahlussunah waljama'ah an-nahdliyah dan keutuhan negara republik Indonesia serta menjadi kekuatan terbesar dan semangat dalam ber-NU,'" harapnya.


     Sementara itu, rekanita fitrih, Ketua panitia mengatakan, bahwa acara pelantikan IPNU-IPPNU yang pertama kali akan diadakan di Mlandingan ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Selayaknya harus ada yg bernuansa bulan Ramadhan pula bukan hanya cerimonial saja tetapi menambah beberapa rentetan acara. 


     "Kita buka acara pondok Ramadhan yg pertama ini dengan mengkhatamkan Al-Qur'an. Dimana kita berharap dengan Khotmil tersebut dapat mengalir barokahnya terkhusus untuk IPNU-IPPNU Mlandingan, kini nanti dan seterusnya,'' pungkasnya.


     Dalam acara pelantikan tersebut, turut hadir ketua MWCNU Mlandingan, ustadz Taufiq, Ketua PAC ISNU Mlandingan, ustadz Dafiq, Ketua Ranting NU Tribungan, Ustadz Nur Taufiq, pembina PAC IPNU-IPPNU Mlandingan Rekan Mahfudz, Ketua PC IPNU IPPNU Situbondo, Ahmad Muhsin dan Zakiyatunnufus, perwakilan pengurus PAC se zona senja, serta beberapa pengurus ranting IPNU-IPPNU di kecamatan Mlandingan. *Lik.

Minggu, 10 April 2022

Puisi Kita adalah Pejuang Nak





Pagi ini,

Sepeda tua itu mengantarkan dirimu,

Kepastian tak pasti tetap engkau lakukan.

Gerimis hujan tak menyurutkan langkahmu.

Anakku.....

Kita adalah pejuang nak...

Jerih yg ayah cucurkan

Tak sebanding dng empati

Kita harus tak bergantung

Kita harus mandiri nak.

Dan nampaknya,kita juga harus menyudahi basa basi ini.

 

Tetaplah tegar anakku....

Ayah pembelamu,ayah prajurit sejatimu dan selamanya mendekapmu.

Abaikan rasa bersalah padamu pagi ini.

Pembelajaran itu,satu lagi kita tuntaskan pagi ini.


Gapai.....gapai....

Pakai pundak ayah,pakai....

Demi anakmu kelak...


#pagigerimisdingin


Mlandingan,sabtu 8 April 2017

08.06

Jumat, 08 April 2022

Memperhitungkan Sains, Filsafat dan Agama

 

 


Memperhitungkan Sains, Filsafat dan Agama

Manakah yang lebih unggul antara Sains, Filsafat dan Agama?

 Pertanyaan demikian menghadirkan jawaban beragam, tergantung latar belakang si penjawab.

    Ada yang mengatakan Sains lebih unggul, sebab teknologi _terutama saat ini _ telah banyak membantu manusia dalam mengatasi kesulitan hidup. Beberapa hal yang dahulu nampak musykil, kini berhasil dibuat menjadi nyata. Contoh gampangnya adalah berkaitan dengan teknologi informasi, di mana setiap kabar peristiwa dari berbagai daerah menyebar ke seluruh penjuru sedemikian cepatnya. Perkembangan teknologi komunikasi pesat bukan main, kita dapat bercengkrama dengan orang lain di antar belahan dunia bukan sekedar secara verbal (ucapan) melainkan juga secara visual. Di masa lalu, kita hanya bisa menyaksikan hal-hal demikian dalam adegan sinetron Mak Lampir, sebagai salah satu kesaktiannya. Sains mampu memberikan solusi atas berbagai keterbatasan manusia dan alam. Bahkan manusia sendiri  takjub terhadap sains yang sebenarnya merupakan hasil karyanya sendiri itu.

   Sekelompok orang menjawab filsafat lebih baik dari semuanya, sebab dalam ranah itu pikiran manusia dilepas bebas tanpa kekang. Ia bisa sekehendaknya terbang ke mana ia suka. Filsafat adalah ilmu purba yang terus berkembang mengikuti jaman. Filsafat melahirkan para pemikir hebat semisal Thales, Aristoteles, Plato, konfusius, Socrates dan lainnya di peradaban jauh sebelum kita, kemudian disusul oleh Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ath-Thusi dan banyak tokoh muslim lainnya. Hingga kemudian di era kekinian, di Indonesia juga memperkenalkan beberapa sosok pemikir / filsuf semisal Rocky Gerung, Fahrudin Faiz, Saras Dewi, F. Budi Hardiman, Paulus Budi Kleden, dls. Filsafat dianggap sebagai paling penting bukan sekedar klaim buta, sebab semua pembelajar sepakat bahwa filsafat adalah induk dari segala Ilmu, termasuk juga induk dari sains.

   Kemudian kalangan rohaniawan tentu menjawab agama yang lebih penting, sebab agama menuntun manusia ke arah yang lebih baik. Agama memberikan pedoman secara moral, etis, nilai, bahkan juga hukum. Agama jelas membimbing manusia ke kehidupan yang lebih proporsional. Agama mengatur segala hal tentang kehidupan, termasuk juga mengatur pengetahuan.

   Tak heran jika kemudian, berdasarkan perbedaan pendapat tersebut, lahirlah sekolah yang hanya cenderung menomersatukan ilmu eksak sebagai kurikulum, atau sekolah yang semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu Agama. Sekolah umum dan sekolah agama menjadi semacam dikotomi, meskipun di banyak pesantren masa kini, madrasah juga mengajarkan pengetahuan Sains dan pengetahuan bahasa yang tidak secara langsung berkaitan dengan agama.

     Namun sebenarnya, menurut saya, agama, filsafat dan sains tidak bisa dibanding-bandingkan begitu saja. Sama seperti "Manakah yang paling penting, makanan ataukah minuman? Ibu ataukah Bapak?" Sebab ketiga unsur pengetahuan itu (agama, filsafat dan sains) mempunyai peran berbeda yang juga sama urgensinya terhadap kehidupan.

    Silahkan menjawab, manakah yang lebih baik antara kemampuan berbicara dengan mendengar? Kemampuan berbicara saja belumlah mencukupi kebutuhan pergaulan, begitu juga kemampuan mendengarkan tidak mencukupi sebagai bekal menjadi makhluk sosial. Keduanya harus sama-sama ada, meskipun sebagian besar orang memang tidak memiliki kedua kemampuan ini secara seimbang, tapi tetap saja bahwa kedua kemampuan itu sebagai hal ideal, tidak bisa diperbandingkan. Keduanya harus sejalan.

   Sains bermuara pada memberikan jawaban pasti atas semua pertanyaan. Pertanyaan di bidang sains, misalnya tentang manusia, "Apakah ciri-ciri tubuh sehat? Bagaimana menjaga organ reproduksi yang sehat? Berapa usia kandungan wanita? Kenapa kematian tak bisa dihindari?” dan lain sebagainya. Pertanyaan itu dijawab dengan jawaban pasti yang berlaku menyeluruh di semua keadaan, tempat dan jaman.

   Dalam pernyataan Filsafat, pertanyaan berakhir dengan pertanyaan. Filsafat idak mengenal jawaban akhir. Contohnya, "Apakah semua manusia mampu melakukan kebaikan?” Kemudian memunculkan pertanyaan “Apa yang dimaksud kemampuan? Bagaimana kriteria kebaikan? Kapan kebaikan harus dilakukan?” Setiap jawaban dari pertanyaan itu akan disusul oleh pertanyaan berikutnya.

   Dalam skop Agama, hampir mirip dengam filsafat. Hanya saja imajinasi berpikir kita tidak boleh sebebas-bebasnya. Ada aturan yang tidak boleh semaunya diterobos. Biasanya setiap pertanyaan sudah disediakan jawabannya, tertulis di kitab-kitab, baik secara tersirat atau pun tersurat. Misalnya, "Apakah manusia harus bertuhan? Bagaimana cara manusia bertuhan?" Tetapi ada batasan, tidak boleh manusia bertanya, "Dari unsur apakah Tuhan? Berapa usia Tuhan? Pertanyaan yang demikian telah menabrak batasan kodrati manusia. Maka kemudian dikenal filsafat islam.

    Antara Sains, Filsafat dan Agama tidak ada yang lebih baik. Ketiganya harus sejalan bergandeng tangan. Sains tidak dapat memberikan solusi yang tepat kasus-kasus yang berkaitan dengan agama, dan agama tidak akan bisa menjawab beberapa persoalan Sains. Mereka mempunyai bidang masing-masing, dan sering dalam beberapa banyak hal, antara agama dan sains saling menguatkan.

   Anda mempunyai pendapat yang berbeda? Mari kita diskusikan.

Tulisan di atas terinspirasi dari tulisan di media sosial pada link berikut:

https://www.facebook.com/1650348318/posts/10221152568357726/

 

Rabu, 06 April 2022

Puisi Negri Para Pemimpi


Kau bersuara tentang hak dirampas diperas

Tapi pesta hakmu berbau money politik.

Kau menggugat ketidak adilan

Tapi kau tempatkan uang sebagai dasar pilihan

Kau memprotes ketumpulan hukum,

Tapi kau pilih para tikus untuk merancang hukum.

Kau berteriak musnahkan koruptor

Tapi lima tahun sekali kau jual suara kotor.

 

Kau mengeluh pada Tuhan,

Kau lupa, Tuhan berbuat menyepakati yang kau rencanakan.

Kau menggerutui Tuhan tak peduli,

Kau lupa, bukankah uang yang kau tuhankan?

 

Mengadulah pada uangmu.

16 Mei 2020

Tanpa Judul

 


Aku termenung di sudut pagi

Hambaran alam menggoda hati

Desir angin saling mengisi

Kubiarkan tubuh dicumbu mentari


Kudengar ayam jantan berkokok rindu

Seruling kenari menawarkan syahdu

Dua sukma ingin segera menyatu

Esa dalam wujud beriak candu


Jurang misteri selalu menganga

Jangan sampai terpasung luka

Bukan hidup bila tak rahasia

Yakinkan hati, lazimkan doa


Sesekali mendakilah

Jangan tersungkur oleh lelah

Sang bestari mengukir jejak telah

Maqam paling puncak adalah lillah


Mari sahabat

Marilah berjabat

Hidup hanya sesaat

Pasung diri dalam taat


Dan untukmu

Kupersembahkan citaku

Dalam selembar cintaku

Untuk meraih kilau cintamu

Senin, 04 April 2022

Menggubah Masa Depan Dengan Karya

 Lietrasi Inspirasi

“Menggubah Masa Depan Dengan Karya”


        Thomas Paine adalah salah seorang bapak pendiri bangsa Amerika. Ia berkebangsaan  Inggris yang tidak punya latar belakang pendidikan formal. Bahkan, seingat saya, dia juga seorang yang sering bermasalah dengan hukum di Inggris, yang menyebabkannya kemudian di buang ke Amerika.

   Di Amerika dia bekerja menjadi kuli di sebuah perusahaan percetakan. Dia sangat memyukai membaca, dan kebetulan juga bisa memakai mesin tik yang sering kali menganggur di tempat itu, sehingga dia bisa memanfaatkannya untuk menulis.

    Tulisan-tulisannya sangat memukau karena sederhana dan sangat terasa kebenarannya. Tulisan-tulisannya dikagumi banyak orang pada masa itu, dan banyak mempengaruhi penyusunan konstitusi Amerika, “Declaration of Independence". Meskipun akhirnya yang paling banyak mendapat nama adalah Thomas Jeffereson, Presiden kedua Amerika. 

        Tetapi sayangnya karena pemikirannya sering berbenturan dengan gereja, akhirnya dia dimusuhi dan dikucilkan oleh hampir semua pejabat pemerintahan.

        Buku bukunya yang sering saya baca waktu kuliah dulu, misalnya: "Common Sense", "The Age of Reason" dan "The Rights of Man". Buku yang disebut terakhir menjadi cikal bakal Hak Asasi Manusia dan berlaku sampai sekarang secara global.

    Jadi jangan merasa kecil hati karena tidak mendapatkan tempat di sekolah formal. Yang membedakan kita adalah seberapa banyak fikiran kita terbuka, seberapa senang kita bertanya (untuk ingin tahu, bukan untuk menjadi bahan debat kusir) dan seberapa sering kita membaca dan berusaha memahami fikiran orang lain. Bukan untuk jadi pengikut, tetapi untuk memperkaya kebijaksanaan dan pemahaman kita sendiri.

(Dikutip dari facebook)