Para Muassis Nahdlatul Ulama'

"Barang siapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khotimah beserta anak cucunya.(Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari)"

Menyambut Harlah NU Ke-96

Sedekah Oksigen (Penanaman pohon di wilayah Kec. Mlandingan, Situbondo oleh MWC NU Mlandingan).

Menyambut Harlah NU Ke-96 MWC NU Mlandingan

Khotmil Qur'an (Kegiatan kedua) di PP. Mabadius Saleh.

Acara Puncak

Sambutan oleh Bapak Akhmat Subaidi, S.Sos. (selaku Bapak Camat Mlandingan) di acara puncak menyambut harlah NU Ke-96.

Jumat, 19 Agustus 2022

B A T A S

B A T A S

 


Pagi ini, bukan kemaren

Rasanya ingin kembali

Sebuah kehendak aneh

Mustahil, ya, mustahil

Waktu sudah terlanjur

Bagaikan aliran sungai

Meski identik tapi tak sama

Bukankah perbedaan itu hakikat?

 

Jangan pernah bermimpi

Menahan waktu sampai di sini

Ia bebas; ia merdeka; ia progresif

Yang konstan adalah pandangan kita

Manusia yang selalu bermain-main

Kaki melangkah kedepan, namun

Kepala tetap menoleh kebelakang

 

Baca juga : Mengakhiri Mimpi


Kapan kita bisa sampai pada ujung

Atau dunia ini memang tak berujung

Bukankah ujung adalah sebuah batas

Atau kita yang harus menciptanya sendiri

Menentukan batas-batas untuk diri sendiri

Tuhan pun berseru; “Janganlah melampaui batas!”

Ah, ternyata kemerdekaan manusia itu terbatas

Dan yang paling mungkin adalah “Kemanusiaan” itu sendiri

 

Ya, saksikanlah dengan seksama, wahai sekalian manusia!

Kemanusiaan adalah batas yang paling mungkin

Dan “menjadi” manusia adalah ujung yang paling nyata

Sederhana, namun tidak semua orang menemukan jejaknya

Akhirnya, bertanyalah kepada al-Musthafa

Manusia puncak yang paling manusiawi

Kita bisa mengikuti tapak jejaknya yang suci


Sabtu, 06 Agustus 2022

M A U K A H E N G K A U ?

 

M A U K A H   E N G K A U ?

 

Aku ingin sekali membangun sebuah rumah untukmu

Untuk kita berdua, sebagai istana tempat kita tertawa

Sebagai tempat berbagi sedu-sedan

Dalam satu dekapan hangat yang selalu kusediakan

 


Aku ingin sekali membangun sebuah rumah untukmu

 Untuk kita berdua, sebagi tempat kita berteduh

Saat terik mentari menyengat punggung kita

Saat dunia bertindak keras kepada kita

 

Aku ingin sekali membangun sebuah rumah untukmu

Untuk kita berdua, sebagai tempat kita bermalam

Sebagai tempat berlindung dari hujan dan gigil

Juga binatang-binatang buas yang sedang kelaparan

 

Maukah kau?

Merajut kita

Bersamaku

Berjalan seiring

Saling bergandengan tangan

Agar dunia tahu

Aku dan kau adalah kita

Satu diri

Menubuh

Dan tak trpisahkan

 

Pulanglah bersamaku!


Baca juga : Puisi Titik-Titik