Para Muassis Nahdlatul Ulama'

"Barang siapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khotimah beserta anak cucunya.(Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari)"

Menyambut Harlah NU Ke-96

Sedekah Oksigen (Penanaman pohon di wilayah Kec. Mlandingan, Situbondo oleh MWC NU Mlandingan).

Menyambut Harlah NU Ke-96 MWC NU Mlandingan

Khotmil Qur'an (Kegiatan kedua) di PP. Mabadius Saleh.

Acara Puncak

Sambutan oleh Bapak Akhmat Subaidi, S.Sos. (selaku Bapak Camat Mlandingan) di acara puncak menyambut harlah NU Ke-96.

Senin, 28 Maret 2022

TITIK

 Aku hanyalah sepenggal senja

Yang tersesat di pagi hari

Rindu pada pendar cahaya mentari

Kilauan agung yang tak terperikan


O, begitu bahagianya burung-burung itu

Bersenandung ria dengan pujian-pujian

Menari-nari membubung angkasa

Bagaikan tarian para Darwisy di hadapan Tuannya

Berputar-putar dalam pusaran tauhid


Lalu, kudengar Rabi'ah berkata;

"Sirnakan surga dan neraka dari hatimu. Karena, hanya Dia yang pantas bertahta di kalbumu"


Dan Al-Ghazali pun bergumam;

"Iya. Surga dan neraka hanyalah tempat, bukan tujuan hakiki manusia. Tujuan hakiki manusia adalah bertemu Sang Ada"


Baca Juga Puisi : MAAF


Aku semakin bingung

Di antara gelombang pengetahuan

Yang berserakan di sudut-sudut jiwa

Seperti sebuah peta yang sulit dimengerti

Namun, aku selalu menyadari, bahwa 

Setiap perjalanan akan berhenti pada satu TITIK


Penulis :

            Miftahud Dafiq Fz

Inilah Aku Penggaris di setiap kelokan

 Oleh : Priy's. M

Dan,

Inilah aku, yg selalu mencipta resah

Jika akal fikir merajai di setiap kisah

Membuat menyeringai

Menjadikan ketidaknyamanan

Inilah aku, penggaris di setiap kelokan, penyaji sumpah serapah


Baca Juga Puisi : Cinta yang Mendua


Dan,

Akulah pemilik kesalahan itu

Akulah penderma kebencian

Aku ahli metafisika buruk

Akulah sumber malapetaka itu

Karna aku rindu ketidakberagaman

Rindu sumpah serapah cinta

Kerinduanku pada kemapanan tanpa tedeng aling-aling

Rinduku yg berjemaah

Cintaku yg bergemah ripah


Dan,

Jangan pernah berfikir aku baik

Jika hanya ingin menyorak

Pahami sepenuhnya

Aku pemilik ketiadaan itu

Akupun juga pemilik keagungan

Bergeraklah tanpa batas

Kerahkan tanpa tendensi

Jaga kepribadian


Aku,

Pemilik yg tak pernah memiliki

Dan aku adalah keabadian itu sendiri



Minggu, 27 Maret 2022

MAAF

 Oleh: Miftahud Dafiq Fz

Maaf, aku masih ingin sendiri;

Tanpa cinta, tanpa tanggung jawab, tanpa kewajiban, tanpa kebersamaan, tanpa terikat, dan tanpa saling merindu.


Maaf, aku masih ingin sendiri;

Menjalani hidup, mengarungi semesta, menanti senja, mengakrabi diri, menerobos samudera, meraih nasib, dan menjemput masa depan.

Baca Juga Puisi : Cinta Yang Mendua

Maaf, aku masih ingin sendiri;

Akalku tak siap, jiwaku berontak, hatiku meringis, langkahku kian lelah, sebab lukaku tak kunjung reda.


Maaf, aku masih ingin sendiri;

Bebas terbang ke angkasa bagai burung elang menyusuri persawahan, bagai aliran air sungai dari muara menuju lautan, dan bagai hembusan angin menjelajahi semesta.


Maaf, aku masih ingin sendiri;

Bersama diri mencumbui Tuhan.


Sabtu, 26 Maret 2022

Cinta Yang Mendua


Oleh: Miftahud Dafiq Fawaizi

Waktu menjadi sepi

Malam pun terasa hening

Saat mata tak lagi menatap

Engkau pun semakin tertatap


Ada gundah, sedikit

Ada harap, bak bukit

Bila iba bertemu nasib

Harap pun menjadi raib


O, aku menangis

Tapi untuk apa mengemis?

O, aku tertindih pilu

Haruskah aku mencari malu?


Baca Juga Puisi : MAAF


Itu karenamu

Itu demi kamu

Juga karenaku

Juga demi aku


Ingin sekali rasanya berteriak:

"Aku gila, aku gila, aku gila!"

"Aku kafir, aku kafir, aku kafir!"

"Aku murtad, aku murtad, aku murtad!"

Aku musyrik, aku musyrik, aku musyrik!"


Sebab dirimu, aku telah menduakanNya

Membagi satu cinta yang tak sepantasnya

Cinta Dia

Cinta kamu

Membaca Konsep Negara Bersama Abed Al-Jabiri

 

         "Masalah Negara adalah masalah yang tergolong pada apa yang dikatakan Nabi SAW: kamu lebih tahu tentang urusan duniamu. Demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum muslim untuk masa kini dan masa depan”. Muhammad ‘Abid al-Jabiri.

       Hubungan agama dan Negara merupakan sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan. Apalagi pada akhir-akhir ini telah banyak muncul dari berbagai kalangan yang menjadikan agama dan negara sebagai isu sentral untuk diperbincangkan. Hal ini tentunya akan menguras energi dari para pemikir muslim yang khusus berbicara tentang masalah tersebut.
          Isu di atas telah banyak menarik perhatian para kaum muslim untuk mencari sebuah kebenaran di dalamnya. Karena, salah sedikit saja maka akan mengakibatkan chaos pada tatanan struktur di suatu negara yang pada awalnya telah tertata rapi. Melihat bahwa agama merupakan fakta sosial yang sangat menentukan terhadap maju dan tidaknya suatu Negara.

        Kalau berbicara dalam konteks Negara Indonesia, muncul kepermukaan bermacam-macam kelompok untuk menyuarakan keinginannya dalam rangka tegaknya khilafah islamiyah. Padahal mereka sadar akan pluralitas keagamaan di Indonesia. Indonesia bukan hanya negara yang terdiri dari satu agama saja, melainkan terdiri atas berbagai agama.
         Adanya sebuah kelompok yang menginginkan tegaknya Khilafah Islamiyah (Negara Islam) tidak lain akibat dangkalnya pemahaman terhadap sumber primer Islam (Alquran dan hadits). Mereka membayangkan Islam telah menetapkan sebuah system/bentuk yang ideal tentang negara. Akibatnya, akan terjadi pemberlakuan syariat Islam secara formal alias “formalisasi syariat”.

          Namun di satu sisi ada juga yang berbalik arah dari kelompok di atas. Dia menginginkan sekularisasi terhadap agama dan negara. Pada ranah ini, maka negara tidak berhak mengintervensi kehidupan keberagamaan rakyatnya. Karena negara menganggap sebuah agama sebagai entitasyang sifatnya private.


           Berbicara tentang hubungan agama dan Negara, maka lahirlah salah satu tokoh pemikir Islam dari Arab yang mencoba untuk memberikan solusi terkait masalah di atas. Tokoh tersebut bernama Muhammad ‘Abid al-Jabiri sebagai tokoh produktif pemikir modern Islam berkebangsaan Maroko (Maghrib). Menurut al-Jabiri, untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat maka kita harus memperjelas dulu definisi tentang Islam. Karena motivasi munculnya penegakan Khilafah Islamiyah ini dipicu oleh adanya ketidakjelasan dalam mendefinisikan Islam.
             Dalam hal di atas, muncul dua kelompok yang saling bertarung untuk mendapatkan legitimasi dari publik terhadap kebenaran dari gagasannya. Pertama, kelompok ini mendefinisikan Islam sebagai sebuah negara dikarenakan Alquran dianggap telah menetapkan tentang konsep sistem/bentuk negara ideal yaitu “Khilafah Islamiyah”. Kedua, kelompok yang mendefinisikan Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah, artinya Islam bukan negara sebagaimana yang telah dikonsepsikan oleh kelompok pertama.


          Konsep penegakan “Khilafah Islamiyah” terhadap sebuah negara dipicu oleh definisi Islam menurut kelompok pertama. Kelompok ini beranggapan bahwa Alquran telah menetapkan tentang sistem/bentuk pemerintahan. Sehingga syariat Islam harus menjadi undang-undang dalam dalam.menjalankan kehidupan bernegara. Sehingga agama selain Islam tidak mempunyai ruang gerak yang bebas karena dibatasi oleh undang-undang dari agama lain. Ini merupakan penindasan melalui sebuah ajaran Islam yang dijadikan undang-undang formal dalam suatu negara. Islam menjadi kelompok tingkat atas dibanding agama lain. Agama lain termarginalisasi dalam dan tidak memiliki kebebasan untuk mengeskpresikan dirinya.


           Tetapi berbeda halnya menurut kelompok kedua, bahwa Islam bukan negara dan Islam tidak mempunyai konsep tentang sistem/bentuk pemerintahan yang ideal di dalam Alquran. Dalam hal inilah, Al-Jabiri menganggap bahwa masalah negara termasuk dari urusan dunia sebagaimana sabda Nabi di atas. Artinya kita tidak perlu mendirikan agama berdasarkan Islam sebagaimana Arab Saudi. Karena Islam dan Negara merupakan dua entitas yang berbeda.


Baca Juga : Mantiq-ut-Tayr


           Menurut al-Jabiri di dalam bukunya “Agama, Negara, dan Penerapan Syari’ah” bahwa pemisahan agama dari negara tidak berarti satu upaya mencegah Islam dari kekuasaan untuk melaksanakan hukum-hukumnya. Karena itu, pembahasan harus dimulai dengan pembedaan antara kekuasaan yang melaksanakan hukum-hukum syari’ah dan lembaga sosial yang disebut negara. Dalam hal ini karena agama mencakup hukum-hukum yang harus dilaksanakan, sementara negara adalah kekuasaan yang berkewajiban menjalankan pelaksanaan ini.
              Hubungan antara agama dan negara dalam rujukan tradisi dibatasi oleh kerangka fakta historis bahwa Islam lahir dalam satu masyarakat yang tak bernegara dan bahwa negara Arab Islam tumbuh secara bertahap. Fakta historis ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Demikianlah, di satu sisi ada suatu kenyataan bahwa sama sekali tidak mungkin untuk memastikan apakah Nabi Muhammad sejak periode awal dakwahnya telah berkeinginan untuk mendirikan suatu negara.


            Kesimpulan yang diperoleh oleh Al-Jabiri mengenai hubungan agama dan negara adalah bahwa “Islam mempunyai hukum-hukum syari’ah yang membutuhkan kekuasaan negara untuk menerapkannya”. Jika kita mau jujur menelaah Alquran dan sejarah Islam, maka kita akan menemukan dengan jelas fakta-fakta yang menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak menentukan jenis dan bentuk Negara. Masalah negara hanyalah masalah yang berkenaan dengan ijtihad.


            Sebagaimana Al-Jabiri, KH. Abdurrahman Wahid (pendiri The Wahid Institute) juga banyak menyinggung tentang hubungan agama dan negara. Menurut beliau adalah usaha yang sia-sia mencari bentuk dan konsep negara dalam Islam. Kita tidak akan bisa mendirikan Negara Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Imam Khomeini. Apalagi dalam konteks Indonesia yang terdiri dari berbagai agama yang juga berhak mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan. Pluralitas dan universalitas keyakinan harus tetap ditegakkan agar tidak terjadi chaos yang berakibat terhadap kesejahteraan dan keharmonisan masyarakat.


            Bagi Gusdur dalam bukunya “Mengurai Hubungan Agama Dan Negara”, kalau memang Nabi menghendaki berdirinya “Negara Islam”, mustahil suksesi kepemimpinan dan peralihan kekuasaan tidak dirumuskan secara formal. Nabi Cuma memerintahkan “ bermusyawarahlah kalian dalam suatu persoalan”. Pada garis besarnya, ada tiga macam responsi dalam hubungan antara Islam dengan Negara.

  • Pertama, dalam responsi integratif, Islam sama sekali menghilangkan kedudukan formalnya dan sama sekali tidak menghubungkan ajaran agama dengan urusan kenegaraan. Hubungan antara kahidupan mereka dengan Negara ditentukan oleh pola hidup kemasyarakatan yang mereka ikuti.
  • kedua, responsi fakultatif bahwa jika kekuatan mereka cukup besar di parlemen atau di MPR, kaum muslimin/wakil-wakil kekuatan Islam akan berusaha membuat undang-undang yang sesuai dengan ajaran Islam. Kalau tidak, mereka juga tidak memaksakan, tetapi menerima aturan yang dianggap berbeda dengan ajaran Islam. Ketiga, responsi konfrontatif bahwa sejak awal Islam menolak datangnya sesuatu yang dianggap tidak Islami.


     Setelah memahami perkembangan pemikiran dari kedua tokoh di atas tentang hubungan agama dan negara, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Islam tidak punya konsep mengenai bentuk negara. Karena negara termasuk dari urusan dunia yang berkaitan dengan ijtihad yang harus dicarikan sebuah solusinya. Sedangkan demokrasi merupakan keniscayaan yang harus selalu ditegakkan dalam suatu negara sebagaimana yang telah pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Selamat membaca!

    Penulis :

                   Miftahud Dafiq Fz

 

 

Kamis, 24 Maret 2022

Setara Pada Akhirnya (Percakapan Dua Sandal)

“Huffff...!”

Pakola menghempaskan nafasnya yang tertahan agak lama. Akhirnya ia keluar juga dari tong pengap, tempat berkumpulnya dengan sampah-sampah basah. Nasi basi, bangkai tikus, buah busuk, dan softex menindihnya sejak pagi tadi.

Kini Pakola teronggok di atas truk pengangkut yang akan membawanya ke tempat lebih layak, sebagaimana seharusnya ditakdirkan. Beruntung, di bak truk, dia berada di posisi paling atas. Setidaknya perjalanannya akan menyenangkan karena terelus-elus angin.


Hampir satu jam perjalanan menuju TPA, di mana Pakola kemudian digelontorkan dari bak truk, teronggok bersama ribuan jenis barang yang tak diperlukan lagi oleh tuannya.

“Hai, Selamat datang di kerajaan sampah!” Tiba-tiba sebuah suara menyapa Pakola. Persis di paling atas onggokan sebelah. Suara itu berasal dari Meli, si sandal jepit yang sudah kehilangan pasangannya. “Semoga kau betah di sini..” Ujarnya penuh basa-basi.

Siapa sih, yang bisa betah di sana tanpa keterpaksaan?

“Aku Pakola. Namamu sia...”

Belum lagi Pakola menyelesaikan pertanyaannya, Meli sudah nyeletuk. “Ya, Aku sudah tahu!”

Pakola terkejut, “Benarkah? Tahu dari siapa?”

Meli nyengir, “Kan kamu yang menyebutkan barusan?”

“Oooh...!” Pakola tersenyum kecele.

“Namaku Meli, sudah seminggu berada di sini.”

Pakola memandang sekujur tubuh Meli. Talinya sudah nyaris putus.

“Hai, bukankah kita dulu pernah dalam mall yang sama?” Teriak Pakola girang.

“Entahlah. Tapi sepertinya memang aku pernah bersamamu dalam beberapa momen.” Sahut Meli.

“Sebelum ke sini, kamu pasti sudah melalui pengalaman yang menyenangkan.” Tebak Meli.

Pakola terdiam. Menyelinap rasa angkuhnya. “Benar! Aku sudah pernah menginjak karpet beludru mewah berwarna merah. Aku pernah keluar masuk BMW. Bahkan aku juga pernah menginjak kepala manusia!”

Meli pura-pura terkejut. “Ya ampun, Bukannya kamu hanya di pakai di kaki? Bagaimana bisa menginjak kepala manusia?”

“Tuanku orang yang angkuh. Seorang pembantunya melakukan kesalahan. Meskipun menurutku itu kesalahan manusiawi, tapi tuanku menganggapnya sangat fatal. Pembantu itu mengacaukan pesta dengan tanpa sengaja menumpahkan minuman ke baju salah seorang tamu. Sebenarnya tamu itu yang kurang hati-hati. Dia yang menabrak pembantu yang sedang sibuk hilir mudik menyiapkan semua minuman. Tuanku marah dan menghardik pembantunya.”

“Tuan yang tak tahu diri,” rutuk Meli.


Baca Juga : Bencana yang Diundang


“Pembantu itu sudah berusaha minta maaf pada tamu, tapi tamu tersebut tidak memperdulikan. Dia langsung dengan raut muka membara. Tuanku menghampiri pembantu itu dan menghardik habis-habisan. Si Pembantu berusaha menjelaskan bagaimana hal itu terjadi, juga sudah meminta maaf pada Tuan, Bahkan Pembantu  itu sampai bersujud mohon pengampunan, tapi Tuan tetap tak mau mendengar alasan apapun, aku dijejakkannya ke kepala pembantu itu.”

“Kau merasa nyaman?” selidik Meli.

Pakola tak menjawab. “Kamu punya pengalaman yang sama hebatnya?” Pakola balik bertanya.

Meli diam sebentar.

“Hampir sama. Aku pernah digunakan untuk menyumpal mulut orang kaya yang sombong!”

“Wow... Itu lebih hebat! Bagaimana ceritanya?

“Si orang kaya yang sepertinya adalah pejabat pemerintah, sedang berpidato tentang kemiskinan di sebuah acara kampanye. Majikanku yang tahu betul bahwa isi pidato itu tidak sesuai dengan sifat si Kaya, merasa kesal. Dia melompat ke arah mimbar, dan melesatkan aku dari kakinya menuju mulut si Orang Kaya.” Meli bercerita dengan cukup bersemangat. Ia yakin Pakola akan teringat sesuatu.

“Eh, sebentar. Kaukah yang dipakai perempuan setengah tua pada malam itu di Gedung Serbaguna?” Tanya Pakola.

“Ya! Berarti kau berada di sana juga?”

“Betul! Tuankulah yang mulutnya disumpali oleh tuanmu!” Seru Pakola.

Meli pura-pura terkesiap. “Jadi... Oh, apa artinya kita akan jadi musuh?” Tanya Meli.

“Tidak! Biarlah Tuan atau majikan kita yang bermusuhan. Kita tidak perlu ikut-ikutan.” Pakola menawarkan senyum persahabatan. “Oh, ya... Namamu? Maaf, aku lupa.” Tanyanya.

“Setuju! Kasta kita tetaplah ditentukan oleh Pemilik. Murah atau mahal, hanya ditentukan oleh bandrol kita. Toh pada akhirnya tetap saja ada di bawah telapak kaki.” Meli bernafas lega. “Namaku Meli!”

“Dan akhirnya kita tidak mendapati perbedaan harga setelah sama-sama berada di sini.” Ujar Pakola menyeringai. Walaupun tetap dengan tersenyum, tapi nampak jelas dia merasa tidak beruntung lagi.

“Itu betul! Kita hanya berbeda karena manusia yang membedakan. Padahal hakekatnya, kita diciptakan dengan tujuan yang sama.” Timpal Meli.

Ucapan Meli itu menghunjam mengusik kesadaran Pakola.

“Kau hebat Meli, nampaknya kamu lebih banyak melewati waktu yang sangat berharga bersama Tuanmu.” Sanjung Pakola.

“Dan kamu.. pasti kamu sudah melewati semua kesenangan bersama tuanmu!” Meli balik memuji.

Pakola tertunduk malu. Terus terang, sebelum mengalami nasib sebagai benda terbuang, dia pernah merasa paling berhak menyandang status sebagai benda terbaik, karena hanya bisa dimiliki orang kaya. Tapi kenyataan akhirnya... Murah atau mahal, seperti kata Meli, sama saja! Tetap saja fungsinya sebagai pelindung kaki. Dan tetap saja pada waktunya akan dibuang tanpa apresiasi.

“Setahuku, benda sejenis dengan kita, yang kini sangat dihargai dan menjadi penghuni museum, hanyalah Terompah Nabi Muhammad! Itupun bukan karena nilai dari terompah tersebut, melainkan lebih karena nilai dari pemiliknya.” Ujar Meli mengakhiri obrolan berujung serius itu.

Pakola tercenung. Meli yang sederhana ternyata mempunyai pemahaman yang tak sederhana.

 

Penulis :

             Aidi Kamil Baihaki


Rabu, 23 Maret 2022

Temu Kader KPNU Mlandingan, Sekaligus Sambang PKPNU 65

        Minggu, 23 Januari 2022 Pertemuan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) mlandingan adakan temu kader dan sambang anggota pendidikan KPNU angkatan 65 si Pondok Pesantren Arkanul Islam, Semek Sawu, Silomukti-Mlandingan.

Turut hadir ketua MWC NU Mlandingan Ustad Taufiq, S.T., Ketua dan Bendahara Koperasi 234 PCNU Situbondo  Kiyai Herman, Koordinator Pengkaderan PKPNU Mlandingan Ustad Zakiuddin, S.Psi dan katib Syuriyah PCNU Situbondo Kiyai Imron Fauzi, S.H.I., beserta 70 kader NU se-Kecamatan Mlandingan yang sudah ikut PKPNU sebelumnya.


Ustad Taufiq, S.T. menyampaikan beberapa point dalam kegiatan ini “Stelah PKPNU pertama di MWC NU Mlandingan yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Jadid Sumber Anyarlalu, kami melakukan revitalisasi struktur pengurus dan memaksimalkan kegiatan keagamaan di setiap ranting, banom se- Kecamatan Mlandingan,” ucapnya dalam sambutan.

Baca Juga : Malam Puncak harlah NU ke-96

“Dengan adanya PKPNU ini militasi kita naik. Ada bebrapa program yang dilaksanakan diantaranya, Lailatul Ijtima’, Literasi Diskusi, Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), serta menyiapkan khotib Jum’at di wilayah MWC NU Mlandingan,” Pungkasnya.

Selain itu, pertemuan kader ini juga diisi dengan pemaparan Program PCNU Situbondo yang disampaikan oleh Kiyai Herman. Beliau menyampaikan tujuan dari adanyan kegiatan ini, “Dengan adanya Koperasi , perputaran keuangan dan modal kita bisa tau. Pengelolaan ekonomi Nahdiyin seluruhnya akan di kelolah oleh koperasi,” katanya.

“Maka di MWC akan di bentuk cabang-cabang koperasi yang akan mengelolah seluruh kebutuhan. Sehingga Nahdiyin menjadi gerakan yang sangat kuat, karena sudah tidak bersandar pada orang lain,”. Tambahnya.



Penulis :

Ftrh


Selasa, 22 Maret 2022

Maghrib

Pukul 6 sore kurang beberapa menit, 

Saat yg lain pulang kepada lelah.

Ia berangkat menuju harap.

Tampak perahu kecil bergoyang-goyang di ujung dermaga.

Ditengah perjalanan,ia berhenti. 

Menoleh ke belakang.

Dari kejauhan terlihat Wajahnya yang hanya separuh tersinari matahari senja.

Ia melanjutkan langkah ke Utara,

bayangannya menjangkau-jangkau ujung timur.


Meski aku yakin ia tak akan dengar, aku tetap berkata padanya dalam lirih,

"berhenti melaju sejenak,menghadaplah ke barat, tundukkan keangkuhanmu, lalu tengadahkan harapan-harapan itu"


Tapi, apa akupun juga yakin, dapat mendengar kata-kataku sendiri?


Maghrib…



Penulis :

Irham Mauli 

Senin, 21 Maret 2022

Masyarakat Umum, Kader dan Pengurus Ranting NU Selomukti mengadakan kegiatan Bakti Sosial Santunan Anak Yatim dan Dhua'afa

Sebagaimana Ranting NU di desa-desa sekecamatan Mlandingan, sumbangsih para kader dan warga Nahdliyyin yang berupa pengumpulan dana melalui gerakan Koin NU, Ranting NU Selomukti juga sudah melaksanakan secara efektif dan simultan hampir tiga bulan ini.

Pada tahap pertama pengumpulan Koin NU, dana yang terkumpul diserahkan kepada MWCNU untuk dikelola bersama. Namun pada tahap berikutnya, inisiatif agar masing-masing ranting mengelola secara otonom nampaknya sudah disepakati, dengan syarat pelaporan tentang kegiatan ini tetap dilakukan pada Pengurus MWCNU Mlandingan.

Ranting NU Selomukti mengelola sendiri hasil pengumpulan dana Koin NU secara mandiri pada tahap kedua dan ketiga.

Pada hari Senin, 21 Maret 2022, untuk memperkenalkan keberadaan kegiatan pengumpulan Koin NU kepada masyarakat umum, kader dan pengurus Ranting NU Selomukti mengadakan kegiatan Bakti Sosial Santunan Anak Yatim dan Dhua'afa tahap kedua, dengan jumlah penerima 10 orang.

"Harapan kita, semoga kegiatan ini terus berlanjut setiap bulan hingga ke tahun-tahun yang akan datang. Dengan kegiatan seperti ini kita sekaligus bersosialisasi terhadap masyarakat, khususnya warga di desa Selomukti, agar turut serta mendukung dan mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengembangkan NU dengan kesadaran penuh," ujar Ustadz Hudri, S. Ag yang menjadi Rais (Syuriah) Ranting NU Selomukti, Mlandingan.

H.M Adnan Hamid selaku ketua Kader NU Ranting Selomukti, juga berharap kegiatan ini benar-benar disupport oleh Pengurus Ranting NU Selomukti lainnya. Tanggung jawab atas kesinambungan kegiatan ini menjadi beban warga Nahdliyin, tetapi hendaknya para kader dan terlebih para pengurus menunjukkan sokongan yang lebih besar.

"Kegiatan bakti sosial santunan ini untuk sementara hanya kita berikan kepada 10 orang setiap bulannya. Ya, mudah-mudahan saja nantinya kita bisa meningkatkannya," Ujar Ustadz Ashabal Yamin. Beliau adalah salah satu pengurus MWCNU Mlandingan yang juga aktif di kegiatan Ranting NU Selomukti.

Berdasarkan hasil laporan pengumpulan Koin NU bulan Februari kemaren, Ranting NU Selomukti mempunyai saldo sekitar Rp. 700.000,00. Dana tersebut akan ditambahkan dengan hasil pengumpulan Koin NU bulan Maret. Selain digunakan untuk kegiatan bakti sosial juga untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan di kantor Ranting NU Selomukti yang beralamat di komplek mushalla Al-Anshar, Kampung Krajan Pesisir, Selomukti.

Penulis : Edy

Minggu, 20 Maret 2022

Bencana yang Diundang

Antara bukit-bukit

Mulut-mulut menggigit bibir sendiri

Setiap doa terhalang ilalang

Rimbun menyekap, tak mengijinkan kembangnya harapan

Tanah-tanah enggan menyusun batu

Akar-akar mengabaikan hujan

Dan laut memenuhi langit dengan amarah


Baca Juga : Puisi Terlambat Terucap


Kita tersisa satu-satu

Menambang sesal

Menguruk jurang dosa

Mencitakan pengampunan

Dari burung-burung yang kehilangan ranting

Dari rusa-rusa yang kehilangan padang

Dari ular yang goanya direbut

Dari landak yang bukit-bukitnya dirampas


Tuhan tak mendengar karena Ia tak didengar

Tuhan tak peduli karena kita abai


Sesalan hanyalah patung-patung bisu

Hiasan, lalu bisa apa?



Penulis: 

Aidi Kamil Baihaki


Terlambat Terucap

 

Kemudian satu perayaan lagi, terlewati.


Sekian banyak seremoni,

Sekian bentuk hegemoni. 


Tak terhitung berapa syaraf harus reinkarnasi,

Melahirkan kalimat anyar,

Rayuan baru.


Ucapan selamat,

Terlontar menggeliat

Lantunan doa menjejal tak kepalang


Spanduk-spanduk terbentang

Laksana menggapai bintang

Bendera berkibaran di udara,

Juga di dada.


Langkah Suci terpatri

Terpahat pada prasasti sunyi


Tetapi...

Tanpa usaha perbaikan diri,

Serta menata organisasi

Ritual berulang-ulang hanyalah onani. 


Baca Juga : Puisi Bencana yang Diundang


Maaf jika terlambat,

Kucari kado tak kunjung tepat

Dan belum kudapat.


Sekali pernah ada,

Kurang pas bagimu yang terlanjur mengada.


Selamat Ulang Tahun NU-ku!


Maafkan kami...

Belum mampu memaksa ego

Hingga sombong memapar

Untuk sekian kali.



Penulis :

Irham Mauli

Mantiq-ut-Tayr

   Sering disebut-sebut ada tiga sufi besar yang lahir dari Persia. Mereka adalah Sanai al-Ghazni, Faridudin Attar dan Jalaludin al-Rumi. Ketiganya nyaris tidak luput dari telaah pemerhati kaum sufistik. Bukan hanya oleh kalangan muslim, para orientalis pun tidak sedikit yang melakukan penelitian secara serius terhadap teks-teks karya tiga sufi itu. Saya ingin mengajak pembaca  mengenal--lebih dekat  Faridudin Attar.

   Nama Attar adalah julukan kepadanya sebagai seorang ahli obat-obatan herbal. Tidak ada kata sepakat mengenai tahun kelahiran Attar. Dawlatshah menyebut Attar lahir 513H. Sementara menurur Edward Brown – seorang orientalis Inggris – ia lahir antara 545H-550H. Yang jelas ia lahir pada awal abad keenam sebagai orang yang sederhana. Attar pernah menyinggung kehidupannya dalam satu bait singkat “Bila aku hendak menyantap roti kering maka aku basahi dengan air mata”. 


   Mengenai kematiannya, dikatakan Attar dipancung oleh tentara Mongol yang membantai penduduk Nishapur seperti dikutip oleh Goenawan Muhammad. Yang lain mengatakan Attar meninggal normal pada 627H. Ia dimakamkan di suatu tempat bagian barat kota Nishapur. Kematiaan bukan apa-apa bagi Attar. “Bukan hal yang luar biasa bila kamu telah menghabisakan tujuh puluh tahun dari umurmu. Tapi yang aneh adalah ketika keburukan selalu bertambah setiap saat” kata Attar dalam puisinya. 

  Lewat karya-karyanya, Attar mampu menghadirkan Tasawuf dengan balutan sastra yang amat indah memesona. Walaupun di sisi lain, ada karya Attar yang disebut-sebut mengerikan. Seperti Mosibatnahmeh. Oleh Kermani puisi itu dianggap sebagai karya paling muram dalam sastra dunia (Goenawan Muhammad).

   Satu dari sekian karyanya yang patut untuk diselami adalah Mantiq-ut-Tayr. Suatu alegori mengenai pejalanan burung-burung dalam mencari SIMORGH, sebutan ‘Tuhan’ oleh kaum Persia yang banyak disebutkan dalam teks-teks kuno seperti Avesta. Lewat burung-burung itu Attar mengisahkan bagaimana perjalanan hidup para sufi. Tasawuf memang sulit untuk didefinisakan. Dari deretan buku-buku yang membahas Tasawuf, pengertiannya terus mengalir bak air. Setiap sufi memiliki pengertiannya sendiri.

Konon penamaan Mantiq-ut-Tayr terinspirasi oleh tulisan Al-Ghazali, Risalatut Tayr. Kesamaan dari kedua buku ini adalah penggunaan burung sebagai pemeran dari kisah tersebut. Sedang isi ceritanya sama sekali berbeda. Pun begitu, terdapat satu hal menarik dari Attar yang juga pernah dilakukan Al-Ghazali sebelumnya yaitu kritik terhadap filsafat. “Bagaimana kamu akan mengetahui alam rohani lewat hikmah orang-orang Yunani? Kamu tidak akan menjadi seorang agamawan sebelum kamu tinggalkan hikmah itu. Siapa saja yang berjalan di jalan kerinduan (Tasawuf) dengan menyandang nama filsuf, ia tidak akan tahu makna kerinduan dalam Agama. Ketahuilah, Kaf lafaz Kufr lebih baik bagiku dibanding Fa Filsafat.”

 Begitu Attar mengungkapkan pandangannya secara tegas terhadap filsafat. Seperti Al-Ghazali yang mengkritik keras para filsuf lewat Tahafut al-Falasifah. Di satu sisi kedua tokoh ini memang 'menyerang' produk filsafat. Tapi di sisi lain, kemampuan dan keberanian keduanya mengkritik para filsuf sebenarnya adalah ruh dari filsafat itu sendiri. Maka kita menjumpai Attar dalam Mantiq-ut-Tayr dengan bagus menjelaskan Tauhid, Makrifah, dan Isyq secara filosofis. Sementara Al-Ghazali dalam banyak tulisannya seringkali ‘mengagungkan’ akal. Kita tahu bahwa akal adalah syarat sekaligus sumber utama dalam filsafat!

    Jumlah bait Mantiq-ut-Tayr mencapai lebih dari empat ribu bait –menurut naskah yang dicetak di Paris 1857M -  dari seluruh bait itu Attar tidak hanya berbicara perjalanan spiritual burung-burung yang dikisahkan. Ia juga membubuhkan banyak kisah-kisah lain mengenai tasawuf. Kemampuan Attar dalam bidang sastra menjadikan buku ini memiliki aroma sedap, yang bisa jadi tidak kita temukan di buku-buku tasawuf lainnya.

      Sebagaimana sufi pada umumnya, poin utama yang hendak disampaikan Attar lewat Mantiq-ut-Tayr adalah hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Sehingga pembahasan soal Tuhan dikalangan para sufi rasanya mustahil tanpa dimulai dengan pembahasan Isyq (Rindu). Bagi sufisme, Rindu adalah wasilah sekaligus cara utama untuk menuju Tuhan.

       Dengan Rindu inilah para sufi akan mulai meninggalkan hiruk-pikuk dunia untuk menghabiskan waktunya bersama Tuhan. Suatu waktu Rabiah al-Adawiyah ditanya tentang teman hidupnya, "aku masih sibuk menikmati cinta bersama Tuhan," katanya. 

   Attar menggambarkan orang yang tengah dilanda Rindu seperti orang gila. Seolah-olah ia mampu berjalan di atas air. Dengan Rindu segalanya akan dicapai. Bahkan, kata Attar, seandainya ada orang yang lemah seperti seekor semut, rindu akan memberinya kekuatan yang tak tertandingi. Rindu itu akan mencabik-cabik apapun yang menghalangi dirinya untuk sampai pada kekasihnya. “Rindu tiada lain adalah benih. Tahukah kau kenapa Hawa bisa ‘lahir’ dari Adam? Itu karena Adam dilanda Rindu!”

     Menariknya, walaupun Attar begitu sering berbicara soal rindu ia tidak dibutakan oleh Rindu itu sendiri. “Tidak mungkin untuk berjalan menuju Simorgh dengan kebodohan. Di setiap hati kita ada banyak problematika, mau tidak mau sebelum berjalan kita harus menghapusnya... setelah hati kita bersih baru perjalanan itu kita mulai” dari ungkapan ini Attar hendak menyampaikan pentingnya Mursyid dalam bertasawuf. Mursyid ini yang akan membimbing dan menunjukkan cara untuk sampai pada Simorgh. Hanya saja tidak semua orang pantas menjadi Mursyid. Melainkan orang-orang tertentu yang telah dianugerahi Tuhan.

       Mengenai relasi antara Tuhan dan Alam, bagi Attar, alam semesta tidak lain hanya bayangan yang muncul karena sinar Tuhan. Andaikan sinar itu tidak ada maka mustahil kita temukan bayangan. Attar melihat alam sebagai suatu ‘mantra’. Bila manusia dapat membaca dan memahami dengan baik, mantra itulah yang akan menyingkap harta karun (Tuhan). Al-Ghazali mena’birkan “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu.” Demikian Attar menggambarkan relasi antara alam semesta dengan Tuhan. Tetapi ada satu ungkapan lain Attar yang membuat saya harus bertanya.  Apakah Attar penganut Wahdatul Wujud yang digaungkan Ibn Arabi? Atau mungkin ia sepaham soal Tuhan dengan al-Hallaj yang berani berkata “Ana Allah”?

   Ia katakan “ Sang Agung itu adalah cermin yang berkilau seperti cahaya matahari, siapa yang menghadapnya ia akan melihat dirinya sendiri.”


Penulis :
            Kholil Afandi, Lc.

Sabtu, 19 Maret 2022

Pelantikan PAC Fatayat NU Mlandingan, bersinergi bersama Puskesmas Kecamatan Mlandingan

        Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Mlandingan masa khidmat 2021-2025 resmi dilantik oleh Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Situbondo pada Senin, 28/02/2022. Bertempat di MI Mambaul Irfan, Blok Sawu, Desa Selomukti, Mlandingan, Situbondo.                        

   Sebelum acara pelantikan terlaksana, PAC Fatayat NU Mlandingan mengadakan kegiatan Pra Pelantikan yang diisi dengan lomba Mewarnai dari tingkat RA, TK dan Paud se-Kecamatan Mlandingan yang di laksanakan kemaren, Minggu 28/02/2022.     

                                    

   Tidak hanya itu, kegiatan Pra Pelantikan dilaksanakan tak lain juga sebagai ajang sosialisasi Vaksinasi oleh Puskesmas Kecamatan Mlandingan, Situbondo.

    Sebagaimana yang di sampaikan oleh ketua terpilih PAC Fatayat NU Mlandingan "Kita Fatayat NU Mlandingan mengadakan acara dua hari berturut-turut. kemarin adalah pencegahan penularan covid varian terbaru yang dibingkai dengan lomba mewarnai dari tingkat, RA, TK dan Paud dalam rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama, Ke 96". 


Baca Juga : Santri Nurul Jadid Sumber Anyar Ikuti Perjalanan Suci

                  

    "kami setelah dilantik yaitu tetap mengacu pada aturan yang berlaku dari AD ART. Mohon doa dan bimbingan dari MWC NU Mlandingan agar kami bisa bertanggung jawab terhadap amanah yang kami emban," Harapnya ketika sambutan.     

   Pelantikan yang bertema "Perempuan Tangguh dan Mandiri untuk Bangsa" itu dihadiri Oleh PC Fatayat NU Situbondo, Sahabat Sillina S.Pd., Sekretaris PC Fatayat NU Situbondo, Ulfiyah, S.Pd.I., Ketua MWCNU Mlandingan, Ustad Taufiq, ST, Camat Kecamatan Mlandingan, Bapak Akhmat Subaidi, S.sos, Ketua PKK Kecamatan Mlandingan, Ketua Ranting NU se-Kecamatan Mlandingan, beserta undangan dari setiap Banom se-Kecamatan Mlandingan.


Oleh : Ftrh.

Hadiah Masih Dalam Perjalanan

      Berkali-kali Bapak setengah tua itu menengadah ke langit, sebagaimana juga berkali-kali mengeluh, “Apa tidak bisa kali ini saja kita bersahabat?” Ujarnya pada gerimis. Ia masih gamang untuk berpamitan pulang pada pemilik rumah.

        Langit menjawab gumamannya dengan gemeretak guntur. Hujan menetes mengguyur lebih lebat. Seperti sengaja menambah kegelisahannya.

Hari beranjak petang.

        Tadi pagi sebelum berangkat bekerja, si Bungsu meminta hadiah untuk kenaikan kelasnya. Tak istimewa. Hanya satu set alat tulis, berupa buku dan pulpen. Semua buku bekas kakaknya yang dia pakai sejak setahun kemaren,, sudah penuh dengan catatan dan coretan.

       Bayangan ceria si Bungsu ketika menerima satu bendel buku dan dua pulpen yang dibawa, tergambar jelas dalam senyum kepuasannya. Dua macam benda yang tidak mahal, tapi sangat dibutuhkan si Bungsu. Dua macam benda yang tidak mahal, tapi belum tentu terbeli oleh mereka yang upah kerjanya hanya cukup untuk dimakan, seperti dirinya.

        Dua benda itu didapatnya dengan menukar jasa lelah menebang pohon di belakang rumah penjual toko ATK. Dasar penjual, dia menangkap peluang keuntungan. Jasa seharian Bapak ini hanya dihargai senilai satu pak buku tulis dan dua buah pulpen. Padahal tertulis di plastik kemasan, harga eceran buku @Rp.2000. Tak ada peluang tawar-menawar.


Baca Juga : Petaka Manusia


    Yakin hujan tak akan mereda, laki-laki itu meminta kresek untuk membungkus hadiahnya. Ditelitinya semua kemungkinan lobang yang bisa diselinapi air hujan. Setelah meyakini kekedapan air, barulah dia menerobos pekatnya hujan, mengayuh ontel butut yang selalu setia mengantarnya ke tujuan.

Satu tangan kanan laki-laki itu menyetir, tangan yang lain mendekap erat kresek hitamnya.

      Dingin hujan menembusi pori-pori, menyelusup setiap persendian. Membuat tubuh lelah itu mengigil gemetaran. Meski begitu, Bayangan kebahagiaan si Bungsu menguatkannya untuk terus menginjak pedal, melaju pelan.

Air hujan menggenang pada lobang jalan, luput dari ketelitian laki-laki ini.

JLEB !!!

        Dengan hanya satu tangan yang menggigil dingin memegang kendali sepeda, ditambah dengan terperosoknya ban depan ke lobang kedalaman sejengkal, membuat sepeda oleng tak terkendali. Meliuk-liuk mencari keseimbangan, hingga ke tengah jalan.

TEEEETTTTT...!

      Bunyi klakson memekakkan telinga, disusul cicitan rem mobil yang terinjak sekuat tenaga, mengakhiri olengnya sepeda. Persis bersamaan dengan bunyi, BRRAAAKK!

        Laki-laki itu terkapar berdarah. Kresek hitam masih terdekap erat, bahkan kini dalam dekapan kedua tangannya. Seakan dia tak rela ada tangan lain yang menyerahkan hadiah itu pada si Bungsu, apalagi mengembatnya. Hadiah itu, akan diberikan dengan tangannya sendiri. 

Hadiah masih dalam perjalanan, dan hujan telah menghalanginya.



Oleh: Aidi Kamil Baihaki


Rabu, 16 Maret 2022

Keniscayaan Kaderisasi

           Majapahit adalah kerajaan besar yang luas wilayah kekuasaannya melebihi luas wilayah Indonesia  saat ini. Jaman keemasannya terjadi ketika dalam kekuasaan Prabu Hayam Wuruk. Sejarah mengakui bahwa kebesaran pemerintahan Majapahit tidak lepas dari kehebatan Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Pemudanya.

        Pada tahun ... Majapahit mengalami kemunduran besar. Terutama ketika Gajah Mada ‘dimutasi’ jabatannya hanya menjadi ... di Probolinggo, itu sebagai bentuk hukuman karena dia yang mencetuskan perang Paregreg. Perang yang diskenario oleh Gajah Mada dan sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Hayam Wuruk.


        Dengan adanya mutasi tersebut (yang sebenarnya adalah pembuangan itu) maka Gajah Mada tidak sempat melakukan kaderisasi. Kemudian lunturlah kebesaran dan kehebatan angkatan perang Majapahit.

        Salah satu penyebab dari sekian banyak peristiwa jatuhnya suatu kekuatan disebabkan kurangnya pengkaderan. Dapat disimpulkan bahwa kehebatan suatu generasi tidak bisa diwariskan pada generasi berikutnya tanpa pengkaderan.


Baca Juga : Petaka Manusia


        Kader identik dengan pemuda, dan pemuda identik dengan semangat. Roh dari suatu organisasi adalah semangat, tanpanya organisasi akan sangat lemah dan mudah dirobohkan. Pandangan yang demikian menjadi tolakan pemikiran terjadinya penjajahan secara ideologis.

        Kader berarti calon, bakal, atau kandidat (KBBI). Pengkaderan adalah proses menyiapkan seseorang agar bisa menggantikan generasi yang lebih tua, dengan harapan kesuksesan yang diraih sebelumnya dapat dipertahankan, lebih-lebih ditingkatkan. Pengkaderan adalah proses mendewasakan pengalaman para pemula agar siap menjalankan tugas ketika sudah sampai pada masanya kemudian.

Tugas kader yaitu menumbuhkembangkan organisasi, dalam hal ini adalah Nahdlatul Ulama.

        Menumbuhkah artinya merawat dari kecil hingga menjadi besar. Bertumbuh berkaitan dengan segi kuantitas atau jumlah. Misalnya dari jumlah yang sedikit tumbuh menjadi lebih banyak, dari sesuatu yang kecil tumbuh menjadi lebih besar.

        Mengembangkan artinya mengelola, memproses atau merawat agar sesuatu dapat menghasilkan hal positif atau keuntungan. Berkembang berkaitan dengan hal kualitas, misalnya dari situasi ketidakpahaman diubah menjadi situasi kepahaman, dari kondisi keawaman menjadi kepakaran. Mengubah keadaan yang diremehkan menjadi diperhitungkan!

        Untuk merobohkan bangunan Nahdlatul Ulama yang kuat, penyerangan pertama yang dilakukan adalah invasi akidah, terutama akidah kaum muda.

        Musuh-musuh Nahdlatul Ulama mengerti betul bahwa para pemudalah yang kelak akan menggantikan kaum sepuh. Dengan mengubah paradigma kaum muda (baca: kader), maka akan sangat mudah menumbangkan Nahdlatul Ulama, atau paling tidak dengan terpolusinya pemikiran kaum muda, maka pada saatnya nanti kehebatan itu akan stagnan, tidak bisa berkembang. Layu perlahan hingga kemudian mati sama sekali.

        Karena kaderisasi menjadi sebuah keniscayaan demi lestarinya suatu organisasi, marilah semua warga Nahdlatul Ulama di MWCNU Mlandingan, terutama semua alumnus PKPNU mengenduskan aroma ke_NU_an pada generasi mendatang dimulai sejak dini. Kita dapat melakukannya melalui lingkup terkecil, yakni keluarga. Kita mengenalkan putera-puteri secara langsung tentang Nahdlatul Ulama dengan cara mengajak mereka ketika menghadiri kegiatan-kegiatan Nahdlatul Ulama. Kita tidak usah merasa kuatir bahwa kehadiran anak-anak dalam kegiatan akan memberi dampak mengganggu, selama hal tersebut sebatas kenakalan-kenakalan kecil. Sedikit demi sedikit, seiring bertambahnya perkembangan usia, pada akhirnya mereka akan paham dengan sendirinya dan bisa membedakan tentang kegiatan bermain dengan kegiatan serius.

        Hanya pada Allah kita mohon petunjuk dan bimbingan, semoga Nahdlatul Ulama senantiasa eksis di segala jaman.

Amin.

 

    Penulis :

                Aidi Kamil Baihaki

Selasa, 15 Maret 2022

Jalan Jihad itu bernama NU


            Jihad dalam  arti mengerahkan segenap potensi diri untuk mengalahkan musuh adalah ajaran penting dalam islam. Tidak hanya berarti perang sebagaimana dimaknai sempit oleh sebagian kalangan muslim (yang tentu sangat berbahaya) akan tetapi jihad memiliki makna yang luas yang dapat dilakukan dalam berbagai konteks. Sebagaimana ungkapan nabi pasca perang badar bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu, tidak hanya perang fisik.


            Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam hal jihad musuh kaum muslimin setidaknya ada empat;  orang-orang kafir, orang-orang munafik, hawa nafsu dan setan. Dan dijelaskan bahwa setan bisa berupa jin dan manusia. Menurutnya pula bahwa menghadapi mereka tidaklah musti melalui perang fisik dan setiap muslim dapat melakukannya kapan pun dan dimana pun.

            Dalam definisi jihad ini dan melihat latar belakang berdirinya NU maka sebenarnya NU adalah media jihad. Dakwah para ulama berlangsung sejak lam, namun ulama mebutuhkan media bernama NU sebagai jalan jihad para ulama melawan musuh-musuh dakwahnya. NU yang didirikan pada tahun 1926 adalah media perlawanan para ulama. Perlawanan terhadap para perong-rong jalan dakwah ulama indonesia yang masif saat itu.

            Disisi lain latar kebangsaaan yang berada dalam penjajahan saat itu menjadikan NU sebagai media perlawanan para ulama terhadap penjajah. tak heran jika perang terbesar melawan penjajah di indonesia tercetus setelah dikeluarkannya resolusi jihad oleh KH. Hasyim asyari (sebagai pimpinan tertinggi NU saat itu) setelah bermusyawarah dengan para perwakilan NU se jawa dan madura.

            Dalam kondisi kekinian jihad NU tentu berada dalam konteks berbeda. medan perang itu kini lebih kompleks dan banyak sisi. Dalam hal pemikiran yang sebenarnya adalah perang lama akan tetapi kini dengan kemajuan teknologi informasi berada pada situasi bebebeda. tentu membutuhkan media dan angkatan perang yang berbeda. 

            Demikian pula dalam hal melawan ketidak adilan ekonomi yang dulu dilakukan para penjajah kini sama sekali berubah dan berbeda konteksnya.  Objek dan subjek pelaku ketidak adilan ekonomi yang makin komplleks dan rumit kini memerlukan reformulasi gerakan  jihad yang berbeda.


Penulis :

Cak Zakki