“Huffff...!”
Pakola menghempaskan nafasnya yang
tertahan agak lama. Akhirnya ia keluar juga dari tong pengap, tempat
berkumpulnya dengan sampah-sampah basah. Nasi basi, bangkai tikus, buah busuk,
dan softex menindihnya sejak pagi tadi.
Kini Pakola teronggok di atas truk
pengangkut yang akan membawanya ke tempat lebih
layak, sebagaimana seharusnya ditakdirkan. Beruntung, di bak truk, dia
berada di posisi paling atas. Setidaknya perjalanannya akan menyenangkan karena
terelus-elus angin.
Hampir satu jam perjalanan menuju TPA, di
mana Pakola kemudian digelontorkan dari bak truk, teronggok bersama ribuan
jenis barang yang tak diperlukan lagi oleh tuannya.
“Hai, Selamat datang di kerajaan sampah!”
Tiba-tiba sebuah suara menyapa Pakola. Persis di paling atas onggokan sebelah.
Suara itu berasal dari Meli, si sandal jepit yang sudah kehilangan pasangannya.
“Semoga kau betah di sini..” Ujarnya penuh basa-basi.
Siapa sih, yang bisa betah di sana tanpa
keterpaksaan?
“Aku Pakola. Namamu sia...”
Belum lagi Pakola menyelesaikan
pertanyaannya, Meli sudah nyeletuk. “Ya, Aku sudah tahu!”
Pakola terkejut, “Benarkah? Tahu dari
siapa?”
Meli nyengir, “Kan kamu yang menyebutkan
barusan?”
“Oooh...!” Pakola tersenyum kecele.
“Namaku Meli, sudah seminggu berada di
sini.”
Pakola memandang sekujur tubuh Meli.
Talinya sudah nyaris putus.
“Hai, bukankah kita dulu pernah dalam
mall yang sama?” Teriak Pakola girang.
“Entahlah. Tapi sepertinya memang aku
pernah bersamamu dalam beberapa momen.” Sahut Meli.
“Sebelum ke sini, kamu pasti sudah
melalui pengalaman yang menyenangkan.” Tebak Meli.
Pakola terdiam. Menyelinap rasa angkuhnya.
“Benar! Aku sudah pernah menginjak karpet beludru mewah berwarna merah. Aku
pernah keluar masuk BMW. Bahkan aku juga pernah menginjak kepala manusia!”
Meli pura-pura terkejut. “Ya ampun,
Bukannya kamu hanya di pakai di kaki? Bagaimana bisa menginjak kepala manusia?”
“Tuanku orang yang angkuh. Seorang
pembantunya melakukan kesalahan. Meskipun menurutku itu kesalahan manusiawi,
tapi tuanku menganggapnya sangat fatal. Pembantu itu mengacaukan pesta dengan
tanpa sengaja menumpahkan minuman ke baju salah seorang tamu. Sebenarnya tamu
itu yang kurang hati-hati. Dia yang menabrak pembantu yang sedang sibuk hilir
mudik menyiapkan semua minuman. Tuanku marah dan menghardik pembantunya.”
“Tuan yang tak tahu diri,” rutuk Meli.
Baca Juga : Bencana yang Diundang
“Pembantu itu sudah berusaha minta maaf
pada tamu, tapi tamu tersebut tidak memperdulikan. Dia langsung dengan raut
muka membara. Tuanku menghampiri pembantu itu dan menghardik habis-habisan. Si
Pembantu berusaha menjelaskan bagaimana hal itu terjadi, juga sudah meminta maaf
pada Tuan, Bahkan Pembantu itu sampai
bersujud mohon pengampunan, tapi Tuan tetap tak mau mendengar alasan apapun,
aku dijejakkannya ke kepala pembantu itu.”
“Kau merasa nyaman?” selidik Meli.
Pakola tak menjawab. “Kamu punya
pengalaman yang sama hebatnya?” Pakola balik bertanya.
Meli diam sebentar.
“Hampir sama. Aku pernah digunakan untuk
menyumpal mulut orang kaya yang sombong!”
“Wow... Itu lebih hebat! Bagaimana
ceritanya?
“Si orang kaya yang sepertinya adalah
pejabat pemerintah, sedang berpidato tentang kemiskinan di sebuah acara
kampanye. Majikanku yang tahu betul bahwa isi pidato itu tidak sesuai dengan
sifat si Kaya, merasa kesal. Dia melompat ke arah mimbar, dan melesatkan aku
dari kakinya menuju mulut si Orang Kaya.” Meli bercerita dengan cukup bersemangat.
Ia yakin Pakola akan teringat sesuatu.
“Eh, sebentar. Kaukah yang dipakai
perempuan setengah tua pada malam itu di Gedung Serbaguna?” Tanya Pakola.
“Ya! Berarti kau berada di sana juga?”
“Betul! Tuankulah yang mulutnya disumpali
oleh tuanmu!” Seru Pakola.
Meli pura-pura terkesiap. “Jadi... Oh,
apa artinya kita akan jadi musuh?” Tanya Meli.
“Tidak! Biarlah Tuan atau majikan kita
yang bermusuhan. Kita tidak perlu ikut-ikutan.” Pakola menawarkan senyum
persahabatan. “Oh, ya... Namamu? Maaf, aku lupa.” Tanyanya.
“Setuju! Kasta kita tetaplah ditentukan
oleh Pemilik. Murah atau mahal, hanya ditentukan oleh bandrol kita. Toh pada
akhirnya tetap saja ada di bawah telapak kaki.” Meli bernafas lega. “Namaku
Meli!”
“Dan akhirnya kita tidak mendapati
perbedaan harga setelah sama-sama berada di sini.” Ujar Pakola menyeringai.
Walaupun tetap dengan tersenyum, tapi nampak jelas dia merasa tidak beruntung
lagi.
“Itu betul! Kita hanya berbeda karena
manusia yang membedakan. Padahal hakekatnya, kita diciptakan dengan tujuan yang
sama.” Timpal Meli.
Ucapan Meli itu menghunjam mengusik
kesadaran Pakola.
“Kau hebat Meli, nampaknya kamu lebih
banyak melewati waktu yang sangat berharga bersama Tuanmu.” Sanjung Pakola.
“Dan kamu.. pasti kamu sudah melewati
semua kesenangan bersama tuanmu!” Meli balik memuji.
Pakola tertunduk malu. Terus terang,
sebelum mengalami nasib sebagai benda terbuang, dia pernah merasa paling berhak
menyandang status sebagai benda terbaik, karena hanya bisa dimiliki orang kaya.
Tapi kenyataan akhirnya... Murah atau mahal, seperti kata Meli, sama saja!
Tetap saja fungsinya sebagai pelindung kaki. Dan tetap saja pada waktunya akan
dibuang tanpa apresiasi.
“Setahuku, benda sejenis dengan kita,
yang kini sangat dihargai dan menjadi penghuni museum, hanyalah Terompah Nabi
Muhammad! Itupun bukan karena nilai dari terompah tersebut, melainkan lebih
karena nilai dari pemiliknya.” Ujar Meli mengakhiri obrolan berujung serius
itu.
Pakola tercenung. Meli yang sederhana
ternyata mempunyai pemahaman yang tak sederhana.
Penulis :
Aidi Kamil Baihaki