Selasa, 22 Maret 2022

Maghrib

Pukul 6 sore kurang beberapa menit, 

Saat yg lain pulang kepada lelah.

Ia berangkat menuju harap.

Tampak perahu kecil bergoyang-goyang di ujung dermaga.

Ditengah perjalanan,ia berhenti. 

Menoleh ke belakang.

Dari kejauhan terlihat Wajahnya yang hanya separuh tersinari matahari senja.

Ia melanjutkan langkah ke Utara,

bayangannya menjangkau-jangkau ujung timur.


Meski aku yakin ia tak akan dengar, aku tetap berkata padanya dalam lirih,

"berhenti melaju sejenak,menghadaplah ke barat, tundukkan keangkuhanmu, lalu tengadahkan harapan-harapan itu"


Tapi, apa akupun juga yakin, dapat mendengar kata-kataku sendiri?


Maghrib…



Penulis :

Irham Mauli 

1 komentar:

  1. Spiritualisme dalam puisi Mas Irham adalah cambuk bagi kami. Melecut tanpa sakit, tapi membekas pada relung.

    Semoga bisa terus berkarya dan menyelipkan mutiara di antara semuanya.

    BalasHapus