Rabu, 16 Maret 2022

Keniscayaan Kaderisasi

           Majapahit adalah kerajaan besar yang luas wilayah kekuasaannya melebihi luas wilayah Indonesia  saat ini. Jaman keemasannya terjadi ketika dalam kekuasaan Prabu Hayam Wuruk. Sejarah mengakui bahwa kebesaran pemerintahan Majapahit tidak lepas dari kehebatan Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Pemudanya.

        Pada tahun ... Majapahit mengalami kemunduran besar. Terutama ketika Gajah Mada ‘dimutasi’ jabatannya hanya menjadi ... di Probolinggo, itu sebagai bentuk hukuman karena dia yang mencetuskan perang Paregreg. Perang yang diskenario oleh Gajah Mada dan sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Hayam Wuruk.


        Dengan adanya mutasi tersebut (yang sebenarnya adalah pembuangan itu) maka Gajah Mada tidak sempat melakukan kaderisasi. Kemudian lunturlah kebesaran dan kehebatan angkatan perang Majapahit.

        Salah satu penyebab dari sekian banyak peristiwa jatuhnya suatu kekuatan disebabkan kurangnya pengkaderan. Dapat disimpulkan bahwa kehebatan suatu generasi tidak bisa diwariskan pada generasi berikutnya tanpa pengkaderan.


Baca Juga : Petaka Manusia


        Kader identik dengan pemuda, dan pemuda identik dengan semangat. Roh dari suatu organisasi adalah semangat, tanpanya organisasi akan sangat lemah dan mudah dirobohkan. Pandangan yang demikian menjadi tolakan pemikiran terjadinya penjajahan secara ideologis.

        Kader berarti calon, bakal, atau kandidat (KBBI). Pengkaderan adalah proses menyiapkan seseorang agar bisa menggantikan generasi yang lebih tua, dengan harapan kesuksesan yang diraih sebelumnya dapat dipertahankan, lebih-lebih ditingkatkan. Pengkaderan adalah proses mendewasakan pengalaman para pemula agar siap menjalankan tugas ketika sudah sampai pada masanya kemudian.

Tugas kader yaitu menumbuhkembangkan organisasi, dalam hal ini adalah Nahdlatul Ulama.

        Menumbuhkah artinya merawat dari kecil hingga menjadi besar. Bertumbuh berkaitan dengan segi kuantitas atau jumlah. Misalnya dari jumlah yang sedikit tumbuh menjadi lebih banyak, dari sesuatu yang kecil tumbuh menjadi lebih besar.

        Mengembangkan artinya mengelola, memproses atau merawat agar sesuatu dapat menghasilkan hal positif atau keuntungan. Berkembang berkaitan dengan hal kualitas, misalnya dari situasi ketidakpahaman diubah menjadi situasi kepahaman, dari kondisi keawaman menjadi kepakaran. Mengubah keadaan yang diremehkan menjadi diperhitungkan!

        Untuk merobohkan bangunan Nahdlatul Ulama yang kuat, penyerangan pertama yang dilakukan adalah invasi akidah, terutama akidah kaum muda.

        Musuh-musuh Nahdlatul Ulama mengerti betul bahwa para pemudalah yang kelak akan menggantikan kaum sepuh. Dengan mengubah paradigma kaum muda (baca: kader), maka akan sangat mudah menumbangkan Nahdlatul Ulama, atau paling tidak dengan terpolusinya pemikiran kaum muda, maka pada saatnya nanti kehebatan itu akan stagnan, tidak bisa berkembang. Layu perlahan hingga kemudian mati sama sekali.

        Karena kaderisasi menjadi sebuah keniscayaan demi lestarinya suatu organisasi, marilah semua warga Nahdlatul Ulama di MWCNU Mlandingan, terutama semua alumnus PKPNU mengenduskan aroma ke_NU_an pada generasi mendatang dimulai sejak dini. Kita dapat melakukannya melalui lingkup terkecil, yakni keluarga. Kita mengenalkan putera-puteri secara langsung tentang Nahdlatul Ulama dengan cara mengajak mereka ketika menghadiri kegiatan-kegiatan Nahdlatul Ulama. Kita tidak usah merasa kuatir bahwa kehadiran anak-anak dalam kegiatan akan memberi dampak mengganggu, selama hal tersebut sebatas kenakalan-kenakalan kecil. Sedikit demi sedikit, seiring bertambahnya perkembangan usia, pada akhirnya mereka akan paham dengan sendirinya dan bisa membedakan tentang kegiatan bermain dengan kegiatan serius.

        Hanya pada Allah kita mohon petunjuk dan bimbingan, semoga Nahdlatul Ulama senantiasa eksis di segala jaman.

Amin.

 

    Penulis :

                Aidi Kamil Baihaki

1 komentar:

  1. Revisi atas tulisan di atas:
    Pada tahun 1389 Majapahit mengalami kemunduran besar. Terutama karena Gajah Mada ‘dimutasi’ jabatannya dilokalisasi hanya menjadi patih di Madakaripura, Tongas, Probolinggo (1359), itu sebagai bentuk hukuman karena dia yang mencetuskan perang Paregreg. Perang yang diskenario oleh Gajah Mada dan sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Hayam Wuruk.

    BalasHapus