“Bino, majulah! Aku perlu sedikit mengendorkan otot-otot sayapku!”
Tanpa membantah, Bino segera menyusul maju, bersamaan aku mundur perlahan. Dalam perpapasan, Bino sempat berujar, “Setelah perbatasan nanti, bersiaplah untuk di depan lagi."
Aku tak menyahutinya.
Formasi V yang kami bentuk dari 15 bangau ini adalah kelompok terakhir yang tercecer karena salah satu anggota kami mengalami tersedak saat pesta ikan di sebuah danau, kemaren.
Ketika sebagian besar rombongan migrasi berangkat, aku memilih untuk bergabung dengan kelompok yang bersedia menunggu hingga salah satu teman kami itu benar-benar pulih dari sesak napasnya. Tapi ketika ia sudah nampak pulih dari tersedaknya, waktu sudah hampir malam. Sehingga, terpaksa kami menginap di sekitar danau. Menunggu untuk berangkat esok harinya.
Berada di urutan paling belakang dalam formasi terbang adalah hal menyenangkan. Di sini aku tidak terlalu banyak menggunakan tenaga untuk melawan angin. Berbeda dengan bangau paling depan, seperti halnya Bino sekarang, dia harus lebih kuat mengepakkan sayapnya. Apalagi memang kali ini embusan angin tidak menentu dan lebih banyak menentang arah terbang kami.
Posisi terdepan memang bertugas sebagai pemecah kekuatan angin.
Belum lagi setengah perjalanan, Bino tiba-tiba mundur. Tanpa berucap apapun.
Bigo yang berada di baris kedua segera menggantikan posisi Bino.
“Baru setengah!” Ucapku ketika Bino tepat di sebelahku saat berpindah urutan ke paling belakang.
Wajahnya merasa tersindir. Tapi dia tidak menanggapinya.
Belum 200 kepakan memimpin, Bigo pun sudah memilih mundur. Aku melihat tak ada yang berinisiatif menggantikan. Terpaksa aku yang maju.
Kupikir ... jika setelah ini aku kelelahan, tak akan ada yang mau menggantikan posisiku. Padahal itu tidak boleh terjadi. Akibatnya akan membuat semua anggota kelompok kelelahan secara bersamaan. Maka ketika dari kejauhan aku lihat pepohonan rimbun dan menjulang di tengah-tengah kota, aku berteriak, “Sebaiknya kita berhenti di sana!”
Mereka setuju dalam diam.
Baca Juga : Santri Nurul Jadid Sumber Anyar Ikuti Perjalanan Suci
Aku memilih pohon paling tinggi, memilih cabang yang kokoh dan rindang. Yang lain mengikuti.
Ternyata tempat ini sudah berpenghuni. Di beberapa tempat terdapat kotoran yang persis dengan kotoran kami, bangsa bangau.
Mungkin mereka sudah bermigrasi?
Ternyata tidak. Beberapa saat kemudian ada 3 ekor bangau mengitari pucuk pohon, disusul kemudian oleh beberapa ekor lagi melakukan hal sama di pohon-pohon sekitar kami. Hingga akhirnya terlihat jumlahnya mungkin hampir seratus.
Seekor bangau yang nampak paling besar mendatangi cabang pohon yang kami tenggeri. Aku segera menyapanya. Dia nampak berwibawa tapi bersahabat.
“Selamat datang di tempat kami! Aku pemimpin kelompok bangau di sini. Namaku Deng-Deng.”
Aku menganggukkan kepala. “Maaf, kami menumpang karena kelelahan. Kami dari arah timur, perjalanan 3 hari dari sini”.
Aku memberi isyarat agar kelompokku memberi hormat. “Namaku Dhelkok!” tambahku.
“Oh, silahkan. Aku berharap kalian menyukai tempat ini," ujar Deng-Deng. Sinar matanya menandakan sambutan yang ramah.
“Ijinkan kami menginap semalam di sini.” Aku mengepakkan sayap dengan lemah supaya dia tahu bahwa kemampuan terbang kami sudah berkurang.
“Baiklah! Sebentar... ."
_
Deng-Deng pergi ke pohon sebelah di mana kelompoknya lebih banyak berkumpul. Beberapa diantaranya memperhatikan kami. Deng-Deng nampak berbicara dengan beberapa ekor, seperti memberi perintah. Kemudian dia menghampiriku lagi, di susul kemudian oleh teman-temannya yang paruh mereka menjepit seekor ikan.
“Kami yakin kalian belum makan, santaplah menu ala kadarnya sebagai penghormatan kami pada tamu,” katanya, sambil memberi isyarat agar teman-temannya membagikan ikan yang mereka bawa.
“Setelah ini, beristirahatlah. Kita bisa mengobrol besok pagi."
Deng-Deng melompat dan terbang diikuti teman-temannya.
Pagi masih samar karena matahari masih akan terbit sebentar lagi, kami sudah bersiap untuk pamit melanjutkan perjalanan yang mungkin masih puluhan hari lagi.
“Oh, tidak! Kalian jangan pergi secepat ini.” Tiba-tiba Deng-Deng menyambar ke dekatku. “Nanti malam kalian akan mendapatkan hiburan di sini. Itu akan sangat luar biasa. Meskipun di beberapa tempat ada juga hal yang mirip, tapi di sini lebih istimewa.”
Kami berpandangan sesama anggota kelompok.
Bino menggeser tubuhnya selangkah. “Apakah hiburan itu?” Tanyanya.
Deng-Deng menunjuk gedung yang tinggi di sekeliling Taman Kota. “Nanti malam adalah perayaan Tahun Baru. Akan ada pesta, keriuhan terompet dan kembang api. Gedung-gedung itu akan bermandikan sinar laser.”
Hmmm...
Menarik! Meskipun kami tidak tahu apa maksudnya, sebab selama ini kami hanya tinggal dalam hutan di pinggiran pantai. Tempat kami jauh dari hingar bingar perayaan apapun.
Teman Deng-Deng yang warnanya sedikit kelabu, menyahut. “Tak mungkin! Manusia-manusia itu sekarang sedang menghadapi pandemi yang mengharuskan mereka untuk menghindari dan tidak boleh mengadakan keramaian.”
Deng-Deng memutar tubuh menghadap pada si Kelabu. “Memangnya kamu tahu betul sifat mereka para manusia?”
“Tidak!” Tegas Kelabu. “Tapi tentu mereka tidak akan berlaku sembarangan dalam ancaman bahaya penyakit itu.”
Nampaknya Deng-Deng tidak mau mendebat lebih lama, “Kita lihat saja nanti malam.”
Kemudian dia membalikkan badan menghadap ke kelompok kami lagi. “Tinggallah! Kami mohon. Kalian tidak akan menyesal.”
Secepatnya kuedarkan pandangan ke wajah-wajah temanku.
Mereka nampak lebih banyak menunjukkan rasa penasaran terhadap cerita Deng-Deng.
Aku berkesimpulan bahwa mereka memilih bersedia untuk tinggal. Maka aku segera memberi jawaban, “Baiklah.”
Pagi itu hingga setengah siang kami mengobrol. Ternyata Deng-Deng dan kelompoknya tidak pernah melakukan migrasi. Mereka sudah turun-temurun tinggal di sini. Menurutnya, setidaknya sudah 5 generasi.
Mereka merasa sangat aman di sini, sebab peraturan manusia memberlakukan larangan berburu di Taman Kota. Bahkan para manusia menyediakan kolam khusus terisi ikan-ikan sebagai tempat bangau berburu. Mereka benar-benar diperlakukan sebagai satwa yang dilindungi.
Di tempat asalku, jangan sampai salah mengambil keputusan untuk menentukan arah berburu, moncong-moncong senapan angin bisa mengincar kami, sebagai keisengan belaka.
Kami menjadi sasaran berlatih menembak! Ya, karena badan kami lebih besar dari pada ukuran tubuh kebanyakan burung lainnya.
Siangnya kami diajak Deng-Deng dan kelompok mereka berburu di kolam yang cukup luas tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Tak lebih dari seratus kepakan sayap.
Ikan di sini cukup banyak dan bermacam-macam. Kami benar-benar berpesta karena di samping melimpahnya makanan, situasi sangat memungkinkan untuk menanggalkan sikap waspada.
Tak ada incaran bidikan senapan angin atau pun ketapel.
Selesai makan, kami segera kembali ke Taman Kota.
Matahari sudah condong ke tempat terbenamnya. Deng-Deng memberikan saran agar kami beristirahat saja, sebab dia memastikan bahwa nanti malam kami tidak akan bisa tidur karena kebisingan. “Tapi itu menarik,” katanya. Kami mengikuti sarannya.
_
Aku terbangun saat terdengar suara merdu adzan isya yang berkumandang dari mesjid di seberang jalan.
Aku perhatikan situasi jalan di sekitar Taman Kota memang agak berbeda dari pada kemaren malam. Derungan kenalpot motor mulai sering terdengar. Meraung-raung memekakkan telinga. Sesekali bunyi terompet melengking ditiup bibir-bibir mungil di antara mereka, para manusia. Aneh, semakin malam bukannya semakin sepi.
Tiba-tiba si Kelabu mendarat di dekatku. Seakan dia mengerti apa yang kupikir, dia berkata, “Manusia memang hampir semuanya begitu. Seringkali mereka mengabaikan hal-hal penting demi sebuah hiburan,” bisiknya. Tak lama kemudian Deng-Deng juga datang menghampiri kami.
“Sebentar lagi kerumunan itu akan dibubarkan oleh petugas-petugas keamanan mereka. Sebaiknya kamu beristirahat lagi,” ujar si Kelabu.
“Kamu sok tahu. Seberapa banyak petugas keamanan itu berbanding jumlah kerumunan, dan yang masih akan datang lagi?” sanggah Deng-Deng.
Dan memang benar, nampak beberapa orang berseragam yang berusaha menghalau kerumunan. Tapi, kerumunan bubar di satu tempat, terbentuk lagi kerumunan di tempat lain.
Bubar ... Berkumpul.
Bubar ... Berkumpul.
Begitu seterusnya dan malah semakin ramai. Hebatnya, para petugas berseragam itu terus saja menghalau, tak ada bosannya.
Hingga pada satu kesempatan, terdengar bunyi lengkingan panjang terompet bersahutan. Riuh rendah. Disambut kemudian dengan ledakan berwarna-warni di langit. Suaranya menakutkan, tapi warnanya yang indah memencar sungguh menarik.
Semua teman kami terbangun. Kepala mereka menengadah ke langit di mana warna-warna menyala tersembur dan berpendar saling timbul tenggelam.
Indah!
Deng-Deng memang benar, kami merasa terhibur!
Ketika suara-suara kebisingan mulai melemah, suara-suara ledakan juga sudah mulai berjeda, si Kelabu berkata, “Kau tahu? Aku pernah mendengar salah seorang dari mereka mengatakan bahwa biaya untuk melakukan perayaan ini, jika dikumpulkan sedunia, akan sangat cukup untuk mebangun sebuah kota yang lengkap dengan semua fasilitas megahnya!”
Aku terkaget. Benarkah?
“Untuk kembang api yang mereka ledakkan, manusia menggali pertambangan untuk mendapatkan bahan-bahannya. Jurang-jurang tercipta karenanya. Untuk kertas pembungkusnya, mereka telah menebang pohon-pohon besar penopang kehidupan sebenarnya. Biaya pengangkutannya ... Asap yang ditimbulkan oleh kendaraan yang mengangkut ... Juga asap yang terjadi saat ia dibakar, Sebenarnya itu lebih banyak memunculkan masalah dari pada nilai terhibur mereka yang hanya sekian menit.”
Aku melirik pada si Kelabu dan menyetujui ujarannya.
“Tidak usahlah kau terlalu memikirkan urusan yang bukan urusanmu!” Deng-Deng tiba-tiba protes.
“Jadi kamu setuju atas perbuatan manusia-manusia itu?” Sergah si Kelabu.
“Untuk apa memberikan pernyataan setuju atau tidak? Itu bukan urusanku!” Jawab Deng-Deng dengan mata setengah melotot.
“Bayangkan, anggaplah mereka sekarang mengeluarkan biaya yang senilai dengan pembiayaan membangun sebuah sekolah, atau rumah sakit. Mereka sudah membakar itu dengan ...”
Kata-kata si Kelabu terhenti karena pada saat yang sama Deng-Deng melompat dan pergi.
Si Kelabu menoleh padaku. “Selamat tidur!” Ucapnya, kemudian meluncur terbang ke tempatnya sendiri.
__
Matahari baru bersinar ketika aku terbangun oleh suara tiutiu dari mobil putih yang bagian atasnya terdapat lampu berwarna merah dan berputar-putar. Ada puluhan mobil seperti itu yang datang dan pergi.
Aku segera terbang meninggi untuk melihat lebih luas ke bawah. Memang nampak di beberapa titik orang-orang yang tubuhnya tertutup rapat oleh pakaian mereka, sedang mengangkat orang-orang lainnya yang tergeletak di tempat tak semestinya. Ada yang di jalan, di bangku taman, di selokan, dan tempat lainnya.
Mereka yang diangkat itu dimasukkan ke dalam mobil yang segera pergi dengan terburu-buru. Kemudian digantikan kedatangan mobil lainnya.
Aku teringat ucapan si Kelabu.
Dia benar, memang manusia lebih mengutamakan keinginannya dari pada kebutuhannya.
Penulis :
Aidi Kamil Baihaki


Mantap smga istiqomah dan smga manfaat
BalasHapusTerima kasih.
HapusSemoga semangat literasi berkobar juga di NU, terutama di kawasan MWCNU Mlandingan.
Silahkan jika ada kritik dan saran, sangat kami harapkan
BalasHapusTulisan sederhana namun sarat makna.
BalasHapusTerkesan ringan namun ada maksud yg berbobot.
Angkat topi untuk penulis yang "mencoba" menyajikan tulisan yang bersahabat untuk semua jenis lidah pembaca.
Terima kasih, Mas sastrawan Mlandingan. Komentar anda adalah support terbaik untuk karya selanjutnya.
HapusMenilik dari kalimat komentar, saya berkeyakinan bahwa Mas Irham termasuk potensi yang akan menjadi aset blog NU Mlandingan ini.
Kami menunggu karyanya.