Pukul 6 sore kurang beberapa menit,
Saat yg lain pulang kepada lelah.
Ia berangkat menuju harap.
Tampak perahu kecil bergoyang-goyang di ujung dermaga.
Ditengah perjalanan,ia berhenti.
Menoleh ke belakang.
Dari kejauhan terlihat Wajahnya yang hanya separuh tersinari matahari senja.
Ia melanjutkan langkah ke Utara,
bayangannya menjangkau-jangkau ujung timur.
Meski aku yakin ia tak akan dengar, aku tetap berkata padanya dalam lirih,
"berhenti melaju sejenak,menghadaplah ke barat, tundukkan keangkuhanmu, lalu tengadahkan harapan-harapan itu"
Tapi, apa akupun juga yakin, dapat mendengar kata-kataku sendiri?
Maghrib…
Penulis :
Irham Mauli



Spiritualisme dalam puisi Mas Irham adalah cambuk bagi kami. Melecut tanpa sakit, tapi membekas pada relung.
BalasHapusSemoga bisa terus berkarya dan menyelipkan mutiara di antara semuanya.