Kemudian satu perayaan lagi, terlewati.
Sekian banyak seremoni,
Sekian bentuk hegemoni.
Tak terhitung berapa syaraf harus reinkarnasi,
Melahirkan kalimat anyar,
Rayuan baru.
Ucapan selamat,
Terlontar menggeliat
Lantunan doa menjejal tak kepalang
Spanduk-spanduk terbentang
Laksana menggapai bintang
Bendera berkibaran di udara,
Juga di dada.
Langkah Suci terpatri
Terpahat pada prasasti sunyi
Tetapi...
Tanpa usaha perbaikan diri,
Serta menata organisasi
Ritual berulang-ulang hanyalah onani.
Baca Juga : Puisi Bencana yang Diundang
Maaf jika terlambat,
Kucari kado tak kunjung tepat
Dan belum kudapat.
Sekali pernah ada,
Kurang pas bagimu yang terlanjur mengada.
Selamat Ulang Tahun NU-ku!
Maafkan kami...
Belum mampu memaksa ego
Hingga sombong memapar
Untuk sekian kali.
Penulis :
Irham Mauli



Lanjutkan Kang Irham.
BalasHapusTularkan semangat Literasi ke penjuru Mlandingan.