Oleh: Miftahud Dafiq Fawaizi
Waktu menjadi sepi
Malam pun terasa hening
Saat mata tak lagi menatap
Engkau pun semakin tertatap
Ada gundah, sedikit
Ada harap, bak bukit
Bila iba bertemu nasib
Harap pun menjadi raib
O, aku menangis
Tapi untuk apa mengemis?
O, aku tertindih pilu
Haruskah aku mencari malu?
Baca Juga Puisi : MAAF
Itu karenamu
Itu demi kamu
Juga karenaku
Juga demi aku
Ingin sekali rasanya berteriak:
"Aku gila, aku gila, aku gila!"
"Aku kafir, aku kafir, aku kafir!"
"Aku murtad, aku murtad, aku murtad!"
Aku musyrik, aku musyrik, aku musyrik!"
Sebab dirimu, aku telah menduakanNya
Membagi satu cinta yang tak sepantasnya
Cinta Dia
Cinta kamu



Cintamu adalah anugerahNya
BalasHapusCintamu adalah miliknya
Ekowah...
Bagaimana mungkin aku menduakanNya, tapi dia pun begitu menggoda
BalasHapusseperti itulah cara Tuhan menciptakan sesuatu dengan indah dan mempesona, sebagai ungkapan bahwa segala sesuatu ada penciptanya (Subhanallah)
HapusMencintainya adalah takdir untuk mendekatiNya
BalasHapussungguh mulia seorang hamba jika telah mencapai puncak kecintaannya
HapusSebab wanita adalah manifestasi wajah Tuhan yang paripurna.
BalasHapusSebab, dia adalah manifestasi keindahan wajahNya yang paripurna
BalasHapus