Sering disebut-sebut ada tiga sufi besar yang lahir dari Persia. Mereka adalah Sanai al-Ghazni, Faridudin Attar dan Jalaludin al-Rumi. Ketiganya nyaris tidak luput dari telaah pemerhati kaum sufistik. Bukan hanya oleh kalangan muslim, para orientalis pun tidak sedikit yang melakukan penelitian secara serius terhadap teks-teks karya tiga sufi itu. Saya ingin mengajak pembaca mengenal--lebih dekat Faridudin Attar.
Nama Attar adalah julukan kepadanya sebagai seorang ahli obat-obatan herbal. Tidak ada kata sepakat mengenai tahun kelahiran Attar. Dawlatshah menyebut Attar lahir 513H. Sementara menurur Edward Brown – seorang orientalis Inggris – ia lahir antara 545H-550H. Yang jelas ia lahir pada awal abad keenam sebagai orang yang sederhana. Attar pernah menyinggung kehidupannya dalam satu bait singkat “Bila aku hendak menyantap roti kering maka aku basahi dengan air mata”.
Mengenai kematiannya, dikatakan Attar dipancung oleh tentara Mongol yang membantai penduduk Nishapur seperti dikutip oleh Goenawan Muhammad. Yang lain mengatakan Attar meninggal normal pada 627H. Ia dimakamkan di suatu tempat bagian barat kota Nishapur. Kematiaan bukan apa-apa bagi Attar. “Bukan hal yang luar biasa bila kamu telah menghabisakan tujuh puluh tahun dari umurmu. Tapi yang aneh adalah ketika keburukan selalu bertambah setiap saat” kata Attar dalam puisinya.
Lewat karya-karyanya, Attar mampu menghadirkan Tasawuf dengan balutan sastra yang amat indah memesona. Walaupun di sisi lain, ada karya Attar yang disebut-sebut mengerikan. Seperti Mosibatnahmeh. Oleh Kermani puisi itu dianggap sebagai karya paling muram dalam sastra dunia (Goenawan Muhammad).
Satu dari sekian karyanya yang patut untuk diselami adalah Mantiq-ut-Tayr. Suatu alegori mengenai pejalanan burung-burung dalam mencari SIMORGH, sebutan ‘Tuhan’ oleh kaum Persia yang banyak disebutkan dalam teks-teks kuno seperti Avesta. Lewat burung-burung itu Attar mengisahkan bagaimana perjalanan hidup para sufi. Tasawuf memang sulit untuk didefinisakan. Dari deretan buku-buku yang membahas Tasawuf, pengertiannya terus mengalir bak air. Setiap sufi memiliki pengertiannya sendiri.
Konon penamaan Mantiq-ut-Tayr terinspirasi oleh tulisan Al-Ghazali, Risalatut Tayr. Kesamaan dari kedua buku ini adalah penggunaan burung sebagai pemeran dari kisah tersebut. Sedang isi ceritanya sama sekali berbeda. Pun begitu, terdapat satu hal menarik dari Attar yang juga pernah dilakukan Al-Ghazali sebelumnya yaitu kritik terhadap filsafat. “Bagaimana kamu akan mengetahui alam rohani lewat hikmah orang-orang Yunani? Kamu tidak akan menjadi seorang agamawan sebelum kamu tinggalkan hikmah itu. Siapa saja yang berjalan di jalan kerinduan (Tasawuf) dengan menyandang nama filsuf, ia tidak akan tahu makna kerinduan dalam Agama. Ketahuilah, Kaf lafaz Kufr lebih baik bagiku dibanding Fa Filsafat.”
Begitu Attar mengungkapkan pandangannya secara tegas terhadap filsafat. Seperti Al-Ghazali yang mengkritik keras para filsuf lewat Tahafut al-Falasifah. Di satu sisi kedua tokoh ini memang 'menyerang' produk filsafat. Tapi di sisi lain, kemampuan dan keberanian keduanya mengkritik para filsuf sebenarnya adalah ruh dari filsafat itu sendiri. Maka kita menjumpai Attar dalam Mantiq-ut-Tayr dengan bagus menjelaskan Tauhid, Makrifah, dan Isyq secara filosofis. Sementara Al-Ghazali dalam banyak tulisannya seringkali ‘mengagungkan’ akal. Kita tahu bahwa akal adalah syarat sekaligus sumber utama dalam filsafat!
Jumlah bait Mantiq-ut-Tayr mencapai lebih dari empat ribu bait –menurut naskah yang dicetak di Paris 1857M - dari seluruh bait itu Attar tidak hanya berbicara perjalanan spiritual burung-burung yang dikisahkan. Ia juga membubuhkan banyak kisah-kisah lain mengenai tasawuf. Kemampuan Attar dalam bidang sastra menjadikan buku ini memiliki aroma sedap, yang bisa jadi tidak kita temukan di buku-buku tasawuf lainnya.
Sebagaimana sufi pada umumnya, poin utama yang hendak disampaikan Attar lewat Mantiq-ut-Tayr adalah hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Sehingga pembahasan soal Tuhan dikalangan para sufi rasanya mustahil tanpa dimulai dengan pembahasan Isyq (Rindu). Bagi sufisme, Rindu adalah wasilah sekaligus cara utama untuk menuju Tuhan.
Dengan Rindu inilah para sufi akan mulai meninggalkan hiruk-pikuk dunia untuk menghabiskan waktunya bersama Tuhan. Suatu waktu Rabiah al-Adawiyah ditanya tentang teman hidupnya, "aku masih sibuk menikmati cinta bersama Tuhan," katanya.
Attar menggambarkan orang yang tengah dilanda Rindu seperti orang gila. Seolah-olah ia mampu berjalan di atas air. Dengan Rindu segalanya akan dicapai. Bahkan, kata Attar, seandainya ada orang yang lemah seperti seekor semut, rindu akan memberinya kekuatan yang tak tertandingi. Rindu itu akan mencabik-cabik apapun yang menghalangi dirinya untuk sampai pada kekasihnya. “Rindu tiada lain adalah benih. Tahukah kau kenapa Hawa bisa ‘lahir’ dari Adam? Itu karena Adam dilanda Rindu!”
Menariknya, walaupun Attar begitu sering berbicara soal rindu ia tidak dibutakan oleh Rindu itu sendiri. “Tidak mungkin untuk berjalan menuju Simorgh dengan kebodohan. Di setiap hati kita ada banyak problematika, mau tidak mau sebelum berjalan kita harus menghapusnya... setelah hati kita bersih baru perjalanan itu kita mulai” dari ungkapan ini Attar hendak menyampaikan pentingnya Mursyid dalam bertasawuf. Mursyid ini yang akan membimbing dan menunjukkan cara untuk sampai pada Simorgh. Hanya saja tidak semua orang pantas menjadi Mursyid. Melainkan orang-orang tertentu yang telah dianugerahi Tuhan.
Mengenai relasi antara Tuhan dan Alam, bagi Attar, alam semesta tidak lain hanya bayangan yang muncul karena sinar Tuhan. Andaikan sinar itu tidak ada maka mustahil kita temukan bayangan. Attar melihat alam sebagai suatu ‘mantra’. Bila manusia dapat membaca dan memahami dengan baik, mantra itulah yang akan menyingkap harta karun (Tuhan). Al-Ghazali mena’birkan “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu.” Demikian Attar menggambarkan relasi antara alam semesta dengan Tuhan. Tetapi ada satu ungkapan lain Attar yang membuat saya harus bertanya. Apakah Attar penganut Wahdatul Wujud yang digaungkan Ibn Arabi? Atau mungkin ia sepaham soal Tuhan dengan al-Hallaj yang berani berkata “Ana Allah”?
Ia katakan “ Sang Agung itu adalah cermin yang berkilau seperti cahaya matahari, siapa yang menghadapnya ia akan melihat dirinya sendiri.”



Alhamdllah
BalasHapusLike this
BalasHapus