Jumat, 08 April 2022

Memperhitungkan Sains, Filsafat dan Agama

 

 


Memperhitungkan Sains, Filsafat dan Agama

Manakah yang lebih unggul antara Sains, Filsafat dan Agama?

 Pertanyaan demikian menghadirkan jawaban beragam, tergantung latar belakang si penjawab.

    Ada yang mengatakan Sains lebih unggul, sebab teknologi _terutama saat ini _ telah banyak membantu manusia dalam mengatasi kesulitan hidup. Beberapa hal yang dahulu nampak musykil, kini berhasil dibuat menjadi nyata. Contoh gampangnya adalah berkaitan dengan teknologi informasi, di mana setiap kabar peristiwa dari berbagai daerah menyebar ke seluruh penjuru sedemikian cepatnya. Perkembangan teknologi komunikasi pesat bukan main, kita dapat bercengkrama dengan orang lain di antar belahan dunia bukan sekedar secara verbal (ucapan) melainkan juga secara visual. Di masa lalu, kita hanya bisa menyaksikan hal-hal demikian dalam adegan sinetron Mak Lampir, sebagai salah satu kesaktiannya. Sains mampu memberikan solusi atas berbagai keterbatasan manusia dan alam. Bahkan manusia sendiri  takjub terhadap sains yang sebenarnya merupakan hasil karyanya sendiri itu.

   Sekelompok orang menjawab filsafat lebih baik dari semuanya, sebab dalam ranah itu pikiran manusia dilepas bebas tanpa kekang. Ia bisa sekehendaknya terbang ke mana ia suka. Filsafat adalah ilmu purba yang terus berkembang mengikuti jaman. Filsafat melahirkan para pemikir hebat semisal Thales, Aristoteles, Plato, konfusius, Socrates dan lainnya di peradaban jauh sebelum kita, kemudian disusul oleh Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ath-Thusi dan banyak tokoh muslim lainnya. Hingga kemudian di era kekinian, di Indonesia juga memperkenalkan beberapa sosok pemikir / filsuf semisal Rocky Gerung, Fahrudin Faiz, Saras Dewi, F. Budi Hardiman, Paulus Budi Kleden, dls. Filsafat dianggap sebagai paling penting bukan sekedar klaim buta, sebab semua pembelajar sepakat bahwa filsafat adalah induk dari segala Ilmu, termasuk juga induk dari sains.

   Kemudian kalangan rohaniawan tentu menjawab agama yang lebih penting, sebab agama menuntun manusia ke arah yang lebih baik. Agama memberikan pedoman secara moral, etis, nilai, bahkan juga hukum. Agama jelas membimbing manusia ke kehidupan yang lebih proporsional. Agama mengatur segala hal tentang kehidupan, termasuk juga mengatur pengetahuan.

   Tak heran jika kemudian, berdasarkan perbedaan pendapat tersebut, lahirlah sekolah yang hanya cenderung menomersatukan ilmu eksak sebagai kurikulum, atau sekolah yang semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu Agama. Sekolah umum dan sekolah agama menjadi semacam dikotomi, meskipun di banyak pesantren masa kini, madrasah juga mengajarkan pengetahuan Sains dan pengetahuan bahasa yang tidak secara langsung berkaitan dengan agama.

     Namun sebenarnya, menurut saya, agama, filsafat dan sains tidak bisa dibanding-bandingkan begitu saja. Sama seperti "Manakah yang paling penting, makanan ataukah minuman? Ibu ataukah Bapak?" Sebab ketiga unsur pengetahuan itu (agama, filsafat dan sains) mempunyai peran berbeda yang juga sama urgensinya terhadap kehidupan.

    Silahkan menjawab, manakah yang lebih baik antara kemampuan berbicara dengan mendengar? Kemampuan berbicara saja belumlah mencukupi kebutuhan pergaulan, begitu juga kemampuan mendengarkan tidak mencukupi sebagai bekal menjadi makhluk sosial. Keduanya harus sama-sama ada, meskipun sebagian besar orang memang tidak memiliki kedua kemampuan ini secara seimbang, tapi tetap saja bahwa kedua kemampuan itu sebagai hal ideal, tidak bisa diperbandingkan. Keduanya harus sejalan.

   Sains bermuara pada memberikan jawaban pasti atas semua pertanyaan. Pertanyaan di bidang sains, misalnya tentang manusia, "Apakah ciri-ciri tubuh sehat? Bagaimana menjaga organ reproduksi yang sehat? Berapa usia kandungan wanita? Kenapa kematian tak bisa dihindari?” dan lain sebagainya. Pertanyaan itu dijawab dengan jawaban pasti yang berlaku menyeluruh di semua keadaan, tempat dan jaman.

   Dalam pernyataan Filsafat, pertanyaan berakhir dengan pertanyaan. Filsafat idak mengenal jawaban akhir. Contohnya, "Apakah semua manusia mampu melakukan kebaikan?” Kemudian memunculkan pertanyaan “Apa yang dimaksud kemampuan? Bagaimana kriteria kebaikan? Kapan kebaikan harus dilakukan?” Setiap jawaban dari pertanyaan itu akan disusul oleh pertanyaan berikutnya.

   Dalam skop Agama, hampir mirip dengam filsafat. Hanya saja imajinasi berpikir kita tidak boleh sebebas-bebasnya. Ada aturan yang tidak boleh semaunya diterobos. Biasanya setiap pertanyaan sudah disediakan jawabannya, tertulis di kitab-kitab, baik secara tersirat atau pun tersurat. Misalnya, "Apakah manusia harus bertuhan? Bagaimana cara manusia bertuhan?" Tetapi ada batasan, tidak boleh manusia bertanya, "Dari unsur apakah Tuhan? Berapa usia Tuhan? Pertanyaan yang demikian telah menabrak batasan kodrati manusia. Maka kemudian dikenal filsafat islam.

    Antara Sains, Filsafat dan Agama tidak ada yang lebih baik. Ketiganya harus sejalan bergandeng tangan. Sains tidak dapat memberikan solusi yang tepat kasus-kasus yang berkaitan dengan agama, dan agama tidak akan bisa menjawab beberapa persoalan Sains. Mereka mempunyai bidang masing-masing, dan sering dalam beberapa banyak hal, antara agama dan sains saling menguatkan.

   Anda mempunyai pendapat yang berbeda? Mari kita diskusikan.

Tulisan di atas terinspirasi dari tulisan di media sosial pada link berikut:

https://www.facebook.com/1650348318/posts/10221152568357726/

 

0 komentar:

Posting Komentar