Memperhitungkan Sains, Filsafat dan Agama
Manakah yang lebih unggul antara Sains, Filsafat dan
Agama?
Pertanyaan
demikian menghadirkan jawaban beragam, tergantung latar belakang si penjawab.
Ada
yang mengatakan Sains lebih unggul, sebab teknologi _terutama saat ini _ telah
banyak membantu manusia dalam mengatasi kesulitan hidup. Beberapa hal yang
dahulu nampak musykil, kini berhasil dibuat menjadi nyata. Contoh gampangnya
adalah berkaitan dengan teknologi informasi, di mana setiap kabar peristiwa
dari berbagai daerah menyebar ke seluruh penjuru sedemikian cepatnya.
Perkembangan teknologi komunikasi pesat bukan main, kita dapat bercengkrama
dengan orang lain di antar belahan dunia bukan sekedar secara verbal (ucapan)
melainkan juga secara visual. Di masa lalu, kita hanya bisa menyaksikan hal-hal
demikian dalam adegan sinetron Mak Lampir, sebagai salah satu kesaktiannya.
Sains mampu memberikan solusi atas berbagai keterbatasan manusia dan alam. Bahkan
manusia sendiri takjub terhadap sains yang
sebenarnya merupakan hasil karyanya sendiri itu.
Sekelompok
orang menjawab filsafat lebih baik dari semuanya, sebab dalam ranah itu pikiran
manusia dilepas bebas tanpa kekang. Ia bisa sekehendaknya terbang ke mana ia
suka. Filsafat adalah ilmu purba yang terus berkembang mengikuti jaman.
Filsafat melahirkan para pemikir hebat semisal Thales, Aristoteles, Plato, konfusius,
Socrates dan lainnya di peradaban jauh sebelum kita, kemudian disusul oleh
Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ath-Thusi dan banyak tokoh muslim
lainnya. Hingga kemudian di era kekinian, di Indonesia juga memperkenalkan
beberapa sosok pemikir / filsuf semisal Rocky Gerung, Fahrudin Faiz, Saras
Dewi, F. Budi Hardiman, Paulus Budi Kleden, dls. Filsafat dianggap sebagai
paling penting bukan sekedar klaim buta, sebab semua pembelajar sepakat bahwa
filsafat adalah induk dari segala Ilmu, termasuk juga induk dari sains.
Kemudian
kalangan rohaniawan tentu menjawab agama yang lebih penting, sebab agama menuntun
manusia ke arah yang lebih baik. Agama memberikan pedoman secara moral, etis,
nilai, bahkan juga hukum. Agama jelas membimbing manusia ke kehidupan yang
lebih proporsional. Agama mengatur segala hal tentang kehidupan, termasuk juga
mengatur pengetahuan.
Tak
heran jika kemudian, berdasarkan perbedaan pendapat tersebut, lahirlah sekolah
yang hanya cenderung menomersatukan ilmu eksak sebagai kurikulum, atau sekolah
yang semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu Agama. Sekolah umum dan sekolah agama
menjadi semacam dikotomi, meskipun di banyak pesantren masa kini, madrasah juga
mengajarkan pengetahuan Sains dan pengetahuan bahasa yang tidak secara langsung
berkaitan dengan agama.
Namun
sebenarnya, menurut saya, agama, filsafat dan sains tidak bisa
dibanding-bandingkan begitu saja. Sama seperti "Manakah yang paling
penting, makanan ataukah minuman? Ibu ataukah Bapak?" Sebab ketiga unsur
pengetahuan itu (agama, filsafat dan sains) mempunyai peran berbeda yang juga
sama urgensinya terhadap kehidupan.
Silahkan
menjawab, manakah yang lebih baik antara kemampuan berbicara dengan mendengar? Kemampuan
berbicara saja belumlah mencukupi kebutuhan pergaulan, begitu juga kemampuan
mendengarkan tidak mencukupi sebagai bekal menjadi makhluk sosial. Keduanya
harus sama-sama ada, meskipun sebagian besar orang memang tidak memiliki kedua
kemampuan ini secara seimbang, tapi tetap saja bahwa kedua kemampuan itu
sebagai hal ideal, tidak bisa diperbandingkan. Keduanya harus sejalan.
Sains
bermuara pada memberikan jawaban pasti atas semua pertanyaan. Pertanyaan di
bidang sains, misalnya tentang manusia, "Apakah ciri-ciri tubuh sehat?
Bagaimana menjaga organ reproduksi yang sehat? Berapa usia kandungan wanita? Kenapa
kematian tak bisa dihindari?” dan lain sebagainya. Pertanyaan itu dijawab
dengan jawaban pasti yang berlaku menyeluruh di semua keadaan, tempat dan
jaman.
Dalam
pernyataan Filsafat, pertanyaan berakhir dengan pertanyaan. Filsafat idak
mengenal jawaban akhir. Contohnya, "Apakah semua manusia mampu melakukan
kebaikan?” Kemudian memunculkan pertanyaan “Apa yang dimaksud kemampuan?
Bagaimana kriteria kebaikan? Kapan kebaikan harus dilakukan?” Setiap jawaban
dari pertanyaan itu akan disusul oleh pertanyaan berikutnya.
Dalam
skop Agama, hampir mirip dengam filsafat. Hanya saja imajinasi berpikir kita
tidak boleh sebebas-bebasnya. Ada aturan yang tidak boleh semaunya diterobos.
Biasanya setiap pertanyaan sudah disediakan jawabannya, tertulis di
kitab-kitab, baik secara tersirat atau pun tersurat. Misalnya, "Apakah
manusia harus bertuhan? Bagaimana cara manusia bertuhan?" Tetapi ada
batasan, tidak boleh manusia bertanya, "Dari unsur apakah Tuhan? Berapa
usia Tuhan? Pertanyaan yang demikian telah menabrak batasan kodrati manusia. Maka
kemudian dikenal filsafat islam.
Antara
Sains, Filsafat dan Agama tidak ada yang lebih baik. Ketiganya harus sejalan
bergandeng tangan. Sains tidak dapat memberikan solusi yang tepat kasus-kasus
yang berkaitan dengan agama, dan agama tidak akan bisa menjawab beberapa
persoalan Sains. Mereka mempunyai bidang masing-masing, dan sering dalam
beberapa banyak hal, antara agama dan sains saling menguatkan.
Anda
mempunyai pendapat yang berbeda? Mari kita diskusikan.
Tulisan
di atas terinspirasi dari tulisan di media sosial pada link berikut:
https://www.facebook.com/1650348318/posts/10221152568357726/



0 komentar:
Posting Komentar