Sabtu, 30 April 2022

SHALAT KAFARAT / BARA’AH

 


Oleh: Abdul Wahab Ahmad

(Wakil Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur)

Soal Shalat Kafarat di setiap jumat terakhir ramadhan

   Shalat Kafarat di setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan adalah Bid’ah dan tak berdasar sehingga tidak boleh diamalkan. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan tegas menyebutkan demikian, begitu juga para muridnya hingga generasi pengarang I’anatut Thalibin, yang menjadi pegangan standar pelajar fikih Syafi’iyah di Indonesia. Itu yang saya pegang dan saya siarkan.

       Walau pun itu biasa dilakukan para ulama besar Yaman di masa lalu, di antaranya adalah Syaikh Abu Bakr bin Salim yang masyhur diakui kewaliannya, sehingga masyarakat di sana mentradisikan amaliyah tersebut.

   Justru sebab itulah saya lebih memilih pendapat yang melarang, sebab saya bukan orang yang seperti Syaikh Abu Bakr bin Salim yang seorang wali.

       Syaikh Abu Bakr bin Salim adalah sosok istimewa yang pengaruh positifnya sangat besar pada masyarakat tempatnya tinggal, dan bahkan hingga ke generasi sekarang. Murid-murid dan pengikut beliau bukan tipikal orang yang gampang meninggalkan shalat atau shalatnya bolong-bolong, apalagi beliau sendiri. Saya yakin beliau melakukan itu dalam rangka menekankan pentingnya kehati-hatian soal Shalat kepada masyarakatnya; jangan-jangan ada shalat yang terlupa atau tidak sempurna syarat rukunnya dalam setahun terakhir. Maka karena kehati-hatiannya itulah kemudian melakukan shalat kafarat / qadla'.

Tindakan berdasar kehati-hatian semacam ini masih bisa dicari landasan justifikasinya, di antaranya dalam penjelasan Qadli Husein.

      Akan tetapi saya bukan sosok spesial seperti itu, murid-murid dan masyarakat di sekitar saya juga bukan tipikal yang seperti itu. Kalau saya menyiarkan shalat Kafarat pada masyarakat, hasilnya bukan malah munculnya kehati-hatian tapi justru menganggap enteng. Bukan tidak mungkin malah muncul orang-orang yang salah paham mengira shalat harian lima kali sehari tidak begitu penting, sebab bisa ditebus sehari saja di jumat terakhir ramadhan. Bukan tidak mungkin, yang shalatnya bolong-bolong malah menunda Qadla shalatnya menunggu hari itu. Dan bisa jadi ada yang mengira bahwa hutang shalat setahun bisa lunas hanya dengan sekali shalat di hari tersebut. Ini semua tentu mengakibatkan kesalahan besar.

        Sebab itu pendapat tersebut tidak saya pilih, yaitu sebagai saddan lidz-dzariah (karena menutup potensi keburukan yang dapat terjadi). Yang berani saya syiarkan adalah pendapat standar dalam empat mazhab, yaitu shalat lima kali sehari adalah perkara yang amat penting dan wajib. Siapa yang meninggalkannya maka harus diqadla sesegera mungkin, tanpa boleh menunda lama, apalagi dikumpulkan hingga setahun. Hutang sekali shalat diqadla dengan sekali shalat, hutang seratus shalat hanya bisa lunas dengan diqadla seratus shalat pula. Inilah pendapat saya dan jawaban saya ketika ditanya mengenai shalat di atas.

Tentang tata cara shalat kafarat

      Tata cara shalat Kafarat tersebut yaitu setelah selesai sholat Jumat, kemudian dimulai dari sholat Dzuhur 4 rakaat seperti biasa, lalu Ashar 4 rakaat, Maghrib 3, Isya’ 4 dan Shubuh 2 rakaat.

Sholat tersebut bisa dilakukan berjamaah atau sendiri dirumah.

      Sampai sekarang para habaib yang melakukan sholat Qodha’, beberapa di antaranya yaitu:

1.  AL-HABIB UMAR BIN SALIM BIN HAFIDZ

2. AL-HABIB SYAIKH BIN ABDUL-QADIR ASSEGAF DAN PARA HABAIB LAINNYA.

3. AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA PEKALONGAN,

4,  HABIBINA AL-HABIB YAHYA BIN ALWI AL HADDAR  (Pengasuh Ponpes Darus Sholihin, Situbondo, Jawa Timur), dan masih banyak yang lain lagi,

Beliau semua melakukan Sholat Qodla’ dengan tatacara seperti diatas (dimulai dari sholat Dzuhur 4 rakaat seperti biasa lalu Ashar 4, Maghrib 3, Isya’ 4 dan Shubuh 2 rakaat)

Niatnya yaitu:

اصلي فرض الظهر اربع ركعات قضاء مستقبل القبلة إماما/مأموما لله تعالى

Usholli Fardhodz Dzuhri arba’a roka’atin Qodlo’an mustaqbilah qiblati imaman Lillahi ta’alaa (kalau jadi imam), atau makmuman (kalau menjadi makmum) lillahi ta’ala Allahu akbar.

Untuk melaksanakan sholat berikutnya tinggal mengganti untuk sholat-sholat yang lain, misalnya Ashar sampai Subuh.

Ketahuilah....!!

Bahwa Syaikh Abubakar Bin Salim RA berkata: “Tidak  di perbolehkan dan termasuk dosa besar jika seorang sengaja meninggalkan shalat fardu selama setahun dengan niatan hanya ingin mengqodho’nya pada hari Jum’at terakhir dalam bulan Ramadhan”

Asal muasal shalat Kafarat tersebut

Yang pertama kali mencetuskan sholat qadla’ lima waktu pada hari jum’at terakhir bulan Ramadhan adalah Beliau (Habib Abu Bakar Bin Salim dan keturunannya. Seperti telah dijelaskan, kemungkinan ada dari shalat lima waktu yang belum terqadla’, atau kurang khusyu’, atau kurang mantap.

Banyak para ulama yang membahas tentang masalah ini dan dijadikan dalam satu kitab khusus.

 Kitab yang membahas hal tersebut.

Adalah kitab yang disusun oleh As-Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal (guru daripada para Masyayikh di Tarim Hadramaut) yang berkata:

القول المنقوض في الرد على من أنكر الخمس الفروض

Khulashah dari pembahasan dalam kitab beliau diatas ada tiga masalah:

1.       HARAM, bagi orang yang meyakini bahwa qadla' lima waktu tersebut adalah untuk mengqadla’ semua shalat  yang dia tinggalkan (bukan menambal/menyempurnakan).

2.       WAJIB, bagi orang yang meyakini punya shalat yang perlu diqodla’, tetapi tidak meyakini seperti keyakinan pertama. Maksudnya hanya sholat itu saja yang lain belum terqodla’kan.

3.       HATI-HATI, bagi orang yang selalu shalat lima waktu, tetapi punya keraguan mungkin dari sholat lima waktu yang dia kerjakan Ada yang kurang dalam syarat atau rukunnya, sehingga perlu di qodla’.

Para ulama menanggapi hal di atas ada yang mengatakan sah dan tidak ssah Bagi kaum muslimin, silahkan mau ikut pendapat yang mana pun. Mau dikerjakan ya boleh, dan tidak dikerjakan juga tidak masalah.

Intisari dari fatwa sayyidil habib al allamah Salim bin Abdullah bin Umar As Syathiri

Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Alhabib Muhammad bin Hadi Assegaf dalam kitabnya, TUHFATUL ASYROF;

لكن هذا القضاء لكل ما يختل في صلاته بوسواس و غير طهور و ذلك يفعل بعضهم بغير تعمد

Maka qadla' ini dilakukan dalam rangka bukan menutupi karena tidak sholat, melainkan sudah melakukan sholat 5 waktu dengan sebaik-baiknya selama ini. Hanya saja barangkali dalam sela-sela dia melakukan sholat ada yang kurang pas dalam kacamata syari’at Islam.

Pendapat Ma'ruf Khozin (anggota Aswaja Center NU)

Ma’ruf Khozin sudah bertanya kepada Habib Abu Bakar As-Segaf, Wakil Rais Syuriah PCNU Pasuruan:

عفوا يا سيدي هل عرفتم بصلاة الكفارة في اخر الجمعة من رمضان. افتوني مأجورين ان شاء اللّٰه

“Maaf Sayid Abu Bakar, apakah Anda pernah tahu tentang salat Kaffarat di hari Jumat terakhir di bulan Ramadlan? Berilah fatwa pada saya, insyaa Allah Anda mendapatkan pahala.”

Habib Abu Bakar As-Segaf menjawab:

ليست صلاة الكفارة. بل صلاة القضاء. هذه من عمل سيدي الشيخ أبي بكر بن سالم المدفون في عينات حضرموت. من أكا بر أولياء السادة في زمانه. لكن لا ينوي بها لجبر صلاة الدهر. كما حرموا ذلك الفقهاء. إنما السادة عملوا ذلك وجعلها دأبا في كل آخر جمعة من رمضان. إقتداءا به وعلقوا نيتهم على نية الشيخ أبي بكر بن سالم الملقب بفخر الوجود . كان الحبيب حسين بن طاهر (مؤلف سلم التوفيق) سأله أهل حضرموت عن ذلك لما أشكلوه. فقال سلمنا لأهل الله ونوينا على مانواه الشيخ أبوبكر بن سالم

“bukan shalat Kaffarat, namun shalat Qadla'. Ini adalah amalan 🌹Sayid Syaikh Abu Bakar bin Salim 🌹yang dimakamkan di 'Inat, Hadlramaut (Yaman). Beliau adalah pembesar / pemimpin para wali dan sayid di masanya. Namun salat tersebut tidak boleh diniati sebagai pengganti salat selama setahun, sebagaimana diharamkan oleh ulama Fikih. Para Sayid (Habaib) hanya mengamalkannya dan menjadikannya sebagai kebiasaan di akhir Jumat bulan Ramadlan karena untuk mengikuti beliau. Mereka menyesuaikan niat sama seperti  niat Sayid Syaikh Abu Bakar bin Salim yang bergelar Fakhr al-Wujud.”

“ kitab Sullamut Taufiq, Habib Husain bin Thahir ditanya oleh penduduk Hadlramaut tentang hal ini, beliau menjawab: "Kita taslim (menerima) terhadap amalan wali Allah. Dan kita niatkan seperti niat Sayid Abu Bakar bin Salim.”

لكن الحبائب منعوا دعوة الناس لفعل هذه الصلاة في المساجد مثلا. وفعلوها مع أسرتهم في بيوتهم. خوفا من الإشكالات من بعض الناس.

“Tetapi para Habaib melarang mengajak orang-orang melakukan salat ini di masjid, misalnya. Beliau-beliau mengamalkannya bersama keluarga di kediaman masing-masing Khawatir ada kejanggalan dari sebagian orang.”

Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar