Oleh:
Abdul Wahab Ahmad
(Wakil Sekretaris LBM
PWNU Jawa Timur)
Soal
Shalat Kafarat di setiap jumat terakhir ramadhan
Shalat
Kafarat di setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan adalah Bid’ah dan tak
berdasar sehingga tidak boleh diamalkan. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan
tegas menyebutkan demikian, begitu juga para muridnya hingga generasi pengarang
I’anatut Thalibin, yang menjadi pegangan standar pelajar fikih Syafi’iyah di
Indonesia. Itu yang saya pegang dan saya siarkan.
Walau
pun itu biasa dilakukan para ulama besar Yaman di masa lalu, di antaranya
adalah Syaikh Abu Bakr bin Salim yang masyhur diakui kewaliannya, sehingga
masyarakat di sana mentradisikan amaliyah tersebut.
Justru
sebab itulah saya lebih memilih pendapat yang melarang, sebab saya bukan orang
yang seperti Syaikh Abu Bakr bin Salim yang seorang wali.
Syaikh
Abu Bakr bin Salim adalah sosok istimewa yang pengaruh positifnya sangat besar
pada masyarakat tempatnya tinggal, dan bahkan hingga ke generasi sekarang.
Murid-murid dan pengikut beliau bukan tipikal orang yang gampang meninggalkan
shalat atau shalatnya bolong-bolong, apalagi beliau sendiri. Saya yakin beliau
melakukan itu dalam rangka menekankan pentingnya kehati-hatian soal Shalat
kepada masyarakatnya; jangan-jangan ada shalat yang terlupa atau tidak sempurna
syarat rukunnya dalam setahun terakhir. Maka karena kehati-hatiannya itulah
kemudian melakukan shalat kafarat / qadla'.
Tindakan
berdasar kehati-hatian semacam ini masih bisa dicari landasan justifikasinya,
di antaranya dalam penjelasan Qadli Husein.
Akan
tetapi saya bukan sosok spesial seperti itu, murid-murid dan masyarakat di
sekitar saya juga bukan tipikal yang seperti itu. Kalau saya menyiarkan shalat
Kafarat pada masyarakat, hasilnya bukan malah munculnya kehati-hatian tapi
justru menganggap enteng. Bukan tidak mungkin malah muncul orang-orang yang
salah paham mengira shalat harian lima kali sehari tidak begitu penting, sebab
bisa ditebus sehari saja di jumat terakhir ramadhan. Bukan tidak mungkin, yang
shalatnya bolong-bolong malah menunda Qadla shalatnya menunggu hari itu. Dan
bisa jadi ada yang mengira bahwa hutang shalat setahun bisa lunas hanya dengan
sekali shalat di hari tersebut. Ini semua tentu mengakibatkan kesalahan besar.
Sebab
itu pendapat tersebut tidak saya pilih, yaitu sebagai saddan lidz-dzariah
(karena menutup potensi keburukan yang dapat terjadi). Yang berani saya syiarkan
adalah pendapat standar dalam empat mazhab, yaitu shalat lima kali sehari
adalah perkara yang amat penting dan wajib. Siapa yang meninggalkannya maka
harus diqadla sesegera mungkin, tanpa boleh menunda lama, apalagi dikumpulkan
hingga setahun. Hutang sekali shalat diqadla dengan sekali shalat, hutang
seratus shalat hanya bisa lunas dengan diqadla seratus shalat pula. Inilah
pendapat saya dan jawaban saya ketika ditanya mengenai shalat di atas.
Tentang
tata cara shalat kafarat
Tata
cara shalat Kafarat tersebut yaitu setelah selesai sholat Jumat, kemudian
dimulai dari sholat Dzuhur 4 rakaat seperti biasa, lalu Ashar 4 rakaat, Maghrib
3, Isya’ 4 dan Shubuh 2 rakaat.
Sholat
tersebut bisa dilakukan berjamaah atau sendiri dirumah.
Sampai
sekarang para habaib yang melakukan sholat Qodha’, beberapa di antaranya yaitu:
1. AL-HABIB UMAR BIN SALIM BIN HAFIDZ
2. AL-HABIB
SYAIKH BIN ABDUL-QADIR ASSEGAF DAN PARA HABAIB LAINNYA.
3.
AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA PEKALONGAN,
4, HABIBINA AL-HABIB YAHYA BIN ALWI AL HADDAR (Pengasuh Ponpes Darus Sholihin, Situbondo,
Jawa Timur), dan masih banyak yang lain lagi,
Beliau
semua melakukan Sholat Qodla’ dengan tatacara seperti diatas (dimulai dari
sholat Dzuhur 4 rakaat seperti biasa lalu Ashar 4, Maghrib 3, Isya’ 4 dan
Shubuh 2 rakaat)
Niatnya
yaitu:
اصلي فرض الظهر
اربع ركعات قضاء مستقبل القبلة إماما/مأموما لله تعالى
Usholli
Fardhodz Dzuhri arba’a roka’atin Qodlo’an mustaqbilah qiblati imaman Lillahi
ta’alaa (kalau jadi imam), atau makmuman (kalau menjadi makmum) lillahi ta’ala
Allahu akbar.
Untuk
melaksanakan sholat berikutnya tinggal mengganti untuk sholat-sholat yang lain,
misalnya Ashar sampai Subuh.
Ketahuilah....!!
Bahwa
Syaikh Abubakar Bin Salim RA berkata: “Tidak
di perbolehkan dan termasuk dosa besar jika seorang sengaja meninggalkan
shalat fardu selama setahun dengan niatan hanya ingin mengqodho’nya pada hari
Jum’at terakhir dalam bulan Ramadhan”
Asal
muasal shalat Kafarat tersebut
Yang
pertama kali mencetuskan sholat qadla’ lima waktu pada hari jum’at terakhir
bulan Ramadhan adalah Beliau (Habib Abu Bakar Bin Salim dan keturunannya.
Seperti telah dijelaskan, kemungkinan ada dari shalat lima waktu yang belum
terqadla’, atau kurang khusyu’, atau kurang mantap.
Banyak
para ulama yang membahas tentang masalah ini dan dijadikan dalam satu kitab
khusus.
Kitab yang membahas hal tersebut.
Adalah
kitab yang disusun oleh As-Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal (guru
daripada para Masyayikh di Tarim Hadramaut) yang berkata:
القول المنقوض
في الرد على من أنكر الخمس الفروض
Khulashah
dari pembahasan dalam kitab beliau diatas ada tiga masalah:
1.
HARAM, bagi orang yang meyakini bahwa qadla'
lima waktu tersebut adalah untuk mengqadla’ semua shalat yang dia tinggalkan (bukan
menambal/menyempurnakan).
2.
WAJIB, bagi orang yang meyakini punya shalat
yang perlu diqodla’, tetapi tidak meyakini seperti keyakinan pertama. Maksudnya
hanya sholat itu saja yang lain belum terqodla’kan.
3.
HATI-HATI, bagi orang yang selalu shalat lima
waktu, tetapi punya keraguan mungkin dari sholat lima waktu yang dia kerjakan Ada
yang kurang dalam syarat atau rukunnya, sehingga perlu di qodla’.
Para
ulama menanggapi hal di atas ada yang mengatakan sah dan tidak ssah Bagi kaum
muslimin, silahkan mau ikut pendapat yang mana pun. Mau dikerjakan ya boleh,
dan tidak dikerjakan juga tidak masalah.
Intisari
dari fatwa sayyidil habib al allamah Salim bin Abdullah bin Umar As Syathiri
Sebagaimana
disebutkan dalam Fatwa Alhabib Muhammad bin Hadi Assegaf dalam kitabnya, TUHFATUL
ASYROF;
لكن هذا القضاء
لكل ما يختل في صلاته بوسواس و غير طهور و ذلك يفعل بعضهم بغير تعمد
Maka
qadla' ini dilakukan dalam rangka bukan menutupi karena tidak sholat, melainkan
sudah melakukan sholat 5 waktu dengan sebaik-baiknya selama ini. Hanya saja
barangkali dalam sela-sela dia melakukan sholat ada yang kurang pas dalam
kacamata syari’at Islam.
Pendapat
Ma'ruf Khozin (anggota Aswaja Center NU)
Ma’ruf
Khozin sudah bertanya kepada Habib Abu Bakar As-Segaf, Wakil Rais Syuriah PCNU
Pasuruan:
عفوا يا سيدي هل عرفتم بصلاة الكفارة في اخر الجمعة
من رمضان. افتوني مأجورين ان شاء اللّٰه
“Maaf
Sayid Abu Bakar, apakah Anda pernah tahu tentang salat Kaffarat di hari Jumat
terakhir di bulan Ramadlan? Berilah fatwa pada saya, insyaa Allah Anda
mendapatkan pahala.”
Habib
Abu Bakar As-Segaf menjawab:
ليست صلاة الكفارة. بل صلاة القضاء. هذه من عمل
سيدي الشيخ أبي بكر بن سالم المدفون في عينات حضرموت. من أكا بر أولياء السادة في زمانه.
لكن لا ينوي بها لجبر صلاة الدهر. كما حرموا ذلك الفقهاء. إنما السادة عملوا ذلك وجعلها
دأبا في كل آخر جمعة من رمضان. إقتداءا به وعلقوا نيتهم على نية الشيخ أبي بكر بن سالم
الملقب بفخر الوجود . كان الحبيب حسين بن طاهر (مؤلف سلم التوفيق) سأله أهل حضرموت
عن ذلك لما أشكلوه. فقال سلمنا لأهل الله ونوينا على مانواه الشيخ أبوبكر بن سالم
“bukan
shalat Kaffarat, namun shalat Qadla'. Ini adalah amalan 🌹Sayid
Syaikh Abu Bakar bin Salim 🌹yang dimakamkan di
'Inat, Hadlramaut (Yaman). Beliau adalah pembesar / pemimpin para wali dan
sayid di masanya. Namun salat tersebut tidak boleh diniati sebagai pengganti
salat selama setahun, sebagaimana diharamkan oleh ulama Fikih. Para Sayid
(Habaib) hanya mengamalkannya dan menjadikannya sebagai kebiasaan di akhir
Jumat bulan Ramadlan karena untuk mengikuti beliau. Mereka menyesuaikan niat sama
seperti niat Sayid Syaikh Abu Bakar bin
Salim yang bergelar Fakhr al-Wujud.”
“
kitab Sullamut Taufiq, Habib Husain bin Thahir ditanya oleh penduduk Hadlramaut
tentang hal ini, beliau menjawab: "Kita taslim (menerima) terhadap amalan
wali Allah. Dan kita niatkan seperti niat Sayid Abu Bakar bin Salim.”
لكن الحبائب منعوا دعوة الناس لفعل هذه الصلاة في
المساجد مثلا. وفعلوها مع أسرتهم في بيوتهم. خوفا من الإشكالات من بعض الناس.
“Tetapi
para Habaib melarang mengajak orang-orang melakukan salat ini di masjid,
misalnya. Beliau-beliau mengamalkannya bersama keluarga di kediaman
masing-masing Khawatir ada kejanggalan dari sebagian orang.”
Wallahu
a’lam.


0 komentar:
Posting Komentar