Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda: “Menuntut ilmu
merupakan suatu kewajiban bagi orang muslim laki-laki dan perempuan”. Di
hadis lain Nabi juga bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka
dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat maka dengan ilmu. Dan barangsiapa
yang menginginkan keduanya maka dengan ilmu”.
Dari kedua hadis di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah suatu entitas yang sine
qua non bagi kehidupan manusia. Bahwa manusia secara umum dan seorang
muslim khususnya, tidak akan bisa menjalani kehidupan di dunia ini tanpa
keberadaan ilmu (baik pengetahuan maupun ilmu pengetahuan).
Al-Ghazali di dalam magnum opusnya –Ihya’ ‘Ulumiddin—memberikan
suatu tamstil yang sangat bagus. Menurutnya, keberadaan ilmu bagi
kehidupan manusia ibarat makanan. Yang tidak lain merupakan kebutuhan primer
bagi manusia. Berikut terjemah dari teks yang ditulis oleh Al-Ghazali perihal pentingnya
ilmu;
“Bukankah orang yang sakit bila dirinya tercegah dari
makan, minum, dan obat akan mati? Iya. Begitu juga dengan hati yang tercegah
dari hikmah dan ilmu selama tiga hari maka ia akan mati. Karena sesungguhnya
makanannya hati adalah hikmah dan ilmu sebagai sumber kehidupannya. Sebagaimana
kebutuhan jasad terhadap makanan. Dan barangsiapa yang menolak ilmu maka
hatinya akan sakit sedangkan kematian (qalbu)nya menjadi niscaya”.
Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu. Sebab
ilmu selalu akan dibutuhkan oleh seseorang yang memiliki profesi apapun sesuai
dengan bidangnya masing-masing. Bahkan berkenaan dengan akhlak pun (yang
notabene hal praksis) juga membutuhkan ilmu. Maka tak heran jika banyak para
ulama’ menulis kitab-kitab tentang ilmu akhlak. Sehingga kita dapat
mengidentifikasi mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang buruk.
Miftahud Dafiq Fawaizi



Sepakat, Kiai!
BalasHapus