Jumat, 29 April 2022

ILMU IBARAT MAKANAN

 


 

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda: “Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi orang muslim laki-laki dan perempuan”. Di hadis lain Nabi juga bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat maka dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka dengan ilmu”.

 

Dari kedua hadis di atas dapat disimpulkan  bahwa ilmu adalah suatu entitas yang sine qua non bagi kehidupan manusia. Bahwa manusia secara umum dan seorang muslim khususnya, tidak akan bisa menjalani kehidupan di dunia ini tanpa keberadaan ilmu (baik pengetahuan maupun ilmu pengetahuan).

 

Al-Ghazali di dalam magnum opusnya –Ihya’ ‘Ulumiddin—memberikan suatu tamstil yang sangat bagus. Menurutnya, keberadaan ilmu bagi kehidupan manusia ibarat makanan. Yang tidak lain merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Berikut terjemah dari teks yang ditulis oleh Al-Ghazali perihal pentingnya ilmu;

 

Bukankah orang yang sakit bila dirinya tercegah dari makan, minum, dan obat akan mati? Iya. Begitu juga dengan hati yang tercegah dari hikmah dan ilmu selama tiga hari maka ia akan mati. Karena sesungguhnya makanannya hati adalah hikmah dan ilmu sebagai sumber kehidupannya. Sebagaimana kebutuhan jasad terhadap makanan. Dan barangsiapa yang menolak ilmu maka hatinya akan sakit sedangkan kematian (qalbu)nya menjadi niscaya”.

 

Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu selalu akan dibutuhkan oleh seseorang yang memiliki profesi apapun sesuai dengan bidangnya masing-masing. Bahkan berkenaan dengan akhlak pun (yang notabene hal praksis) juga membutuhkan ilmu. Maka tak heran jika banyak para ulama’ menulis kitab-kitab tentang ilmu akhlak. Sehingga kita dapat mengidentifikasi mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang buruk.

 

Penulis :

              Miftahud Dafiq Fawaizi

1 komentar: